28.1.08

Sejarawan Minta Buku Sejarah Dikaji Kembali

Senin, 28 Januari 2008 | 16:58 WIB
 
TEMPO Interaktif, Yogyakarta: Sejarawan Universitas Gajah Mada Yogyakarta Adaby Darban menyerukan buku pelajaran sejarah di sekolah perlu dirvisi. Terutama materi tentang "Serangan Oemoem 1 Maret" 1948 di Yogyakarta.

Dalam buku-buku sejarah, Soeharto menyatakan dirinya sebagai pemrakarsa serangan tersebut. "Kita pernah mempermasalahkan pernyataan tersebut," kata Adaby di Yogyakarta pada Senin (28/1).

Untuk mengungkap kebenaran pernyataan itu, sejarawan mendatangkan saksi sejarah Marsudi, seorang bentara (kurir) Sultan Hamengku Buwono IX. "Pemrakarsa serangan itu adalah Sri Sultan Hamengku Buwono IX," katanya.

Menurut Adaby, saat itu Soeharto merupakan tentara di lapangan di sektor barat dan bukan sosok yang mengambil inisitif penyerangan. Pada saat itu Sultan Hamengku Buwono IX mendengar radio Belanda bahwa Republik Indonesia sudah tidak ada lagi dan berada di bawah NICA (Nederland Indian Civil Administration).

Setelah mendengar kabar itu, Sultan punya gagasan untuk menunjukkan bahwa Republik Indonesia masih ada berupa gerakan untuk mengambil Yogyakarta. Gagasan ini disiarkan melalui radio lewat Wonosari, Gunungkidul ke Sumatera Barat yang dikomandani oleh Syafruddin Prawiranegara. Kabar ini diteruskan hingga ke Aceh, Thailand, dan India.

Adaby mengatakan, gagasan ini kemudian disampaikan kepada Panglima Besar Jenderal Soedirman yang menyetujui gerakan tersebut. Lalu Jenderal Sudirman mengutus Soepardjo Roestam bertemu Sultan yang berakhir dengan persetujuan waktu penyerangan. "Soeharto kemudian mendapatkan tugas di lapangan yaitu di sektor barat," katanya. muh syaifullah
 

Sphere: Related Content

No comments: