13.1.08

Semuanya Bermula dari Semarang

Suara Merdeka - Sabtu, 12 Januari 2008
NASIONAL


* Oleh George Junus Aditjondro

KETIKA mantan Presiden Soeharto masuk Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) untuk ke-14 kalinya, Jumat, 4 Januari lalu, tanggapan yang sangat berbeda muncul dari dua komunitas yang sangat dekat dengan mantan jenderal berbintang lima. Mereka yang secara biologis dekat
dengan Soeharto, berdoa bagi kesehatannya, sekaligus berusaha melapangkan jalan baginya untuk menghadap Sang Pencipta. Sedangkan mereka yang secara politis pernah dekat dengan Soeharto, sibuk memperjuangkan penghapusan tuntutan hukum pada Soeharto, yang dapat
berimbas kepada mereka.

Di Dusun Kemusuk, Desa Argomulyo, Kecamatan Sedayu, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, di mana anak petani bernama Soeharto dilahirkan pada 8 Juni 1921, pengajian terus berlangsung. Surat Yasin terus bergema dari rumah almarhum R Notosoewito, adik tiri Soeharto yang mantan Kepala Desa di sana. Pengajian serupa juga dilakukan oleh kerabat Soeharto di Dalem Kalitan, rumah almarhumah Ny Tien Soeharto di Laweyan, Solo.

Lain lagi respons tokoh-tokoh Golkar, mantan kendaraan politik Soeharto selama tiga dasawarsa lebih. Sikap Golkar ini sangat bertentangan dengan aspirasi gerakan mahasiswa, yang telah memaksa Soeharto turun tahta pada Kamis, 21 Mei 1998. Perjuangan menjelang Sidang Istimewa MPR-RI bulan November 1998, melahirkan TAP MPR Nomor XI/MPR/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas dari KKN, tertanggal 13 November 1998.

Pasal 4 TAP MPR itu berbunyi, ''Upaya pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme harus dilakukan secara tegas terhadap siapapun juga, baik pejabat negara, mantan pejabat negara, keluarga, dan kroninya maupun pihak swasta/konglomerat termasuk mantan Presiden Soeharto
dengan tetap memperhatikan prinsip-prinsip praduga tak bersalah dan hak-hak azasi manusia.''

TAP MPR ini merupakan akomodasi politik terhadap perjuangan mahasiswa, yang tidak setuju dengan pengesahan kedudukan BJ Habibie sebagai Presiden dan menuntut pertanggungjawaban Soeharto terhadap korupsi dan pelanggaran HAM selama masa kekuasaannya. Ketetapan MPR itu dibayar mahal dengan tumbal nyawa enam orang mahasiswa yang gugur di seputar Jembatan Semanggi pada hari yang sama.

Lalu apa hubungan itu semua dengan kita di Jawa Tengah? Pembaca mungkin sudah lupa, ''bakat'' korupsi Soeharto dimulai di Semarang, sewaktu mantan anggota KNIL yang kemudian masuk PETA, dipercaya sebagai Komandan T & T IV dan kemudian Panglima Kodam Diponegoro. Selama dasawarsa 1950-an itulah terbina hubungan antara Soeharto dan taipan yang kini salah satu orang terkaya di Asia, Liem Sioe Liong.

Liem Sioe Liong menjadi pemasok Kodam Diponegoro, lewat Mayor Soedjono Hoemardani, yang di masa Orde Baru diangkat Soeharto menjadi Aspri Presiden bidang ekonomi. Lewat priayi Solo itulah Liem Sioe Liong mendapat monopoli impor cengkeh, bersama adik tiri Soeharto,
Probosutedjo dan monopoli pengolahan gandum impor, melalui PT Bogasari.

Hubungan akrab antara Soeharto dan Liem Sioe Liong selanjutnya diawetkan dengan pendirian kelompok Salim, di mana Soeharto diwakili oleh adik sepupunya, Sudwikatmono, serta Bank Central Asia (BCA), di mana dua anak Soeharto -Tutut dan Sigit - mendapatkan saham sebesar 32 persen.

Soeharto tidak pernah lupa mensejahterakan kerabatnya, selama ia berhasil memanipulasi Golkar untuk memperpanjang kekuasaannya sampai 32 tahun. Berkat dukungan sang Presiden, selain Sudwikatmono dan Probosutedjo, Notosuwito juga berhasil merentangkan sayap bisnisnya
sampai ke Suriname.

Di negeri Amerika Tengah di mana sebagian penduduknya berdarah Jawa, kelompok bisnis MUSA (Mitra Usaha Sejati Abadi) yang berada di bawah payung Yayasan Kemusuk Somenggalan mendapat konsesi hutan seluas 150 ribu hektare. Yayasan itu diketuai oleh Notosuwito, yang baru meninggal dua tahun lalu.

Kita belum lupa bahwa wartawan Bernas, Fuad Muhamad Syafrudin alias Udin, meninggal setelah diserang dua orang laki-laki tidak dikenal, malam hari, 13 Agustus 1996. Pembunuhan misterius itu terjadi setelah Udin mengekspos jaringan korupsi antara Bupati Bantul waktu itu, Sri Roso Sudarmo dengan Notosuwito. Sri Roso diberitakan telah membayar ''sumbangan'' sebesar satu miliar rupiah kepada Yayasan Dharmais, yang diketuai Soeharto, supaya masa jabatan sang Bupati bisa diperpanjang. Memang, Sri Roso Sudarmo sudah diajukan ke pengadilan militer, namun pembunuh Udin tidak pernah dibawa ke pengadilan.

Jadi, dengan melihat bagaimana ''bakat'' korupsi Soeharto bermula dari Semarang, maka setelah dia berhasil memanipulasi sistem politik Indonesia untuk mempertahankan kursi kepresidenannya selama 32 tahun, para politisi asal Jawa Tengah jangan ikut memperjuangkan penghapusan
gugatan hukum terhadap Soeharto. Sebab kita yang berasal dari Jawa Tengah, punya tanggung jawab moral memberantas virus korupsi yang mulai dikembangkan oleh Soeharto, dari Semarang.

Masalahnya, gugatan perdata yang sedang diajukan oleh Jaksa Agung Hendarman Supandji merupakan gugatan minimal terhadap mantan jenderal ini. Sebab ada sederet pelanggaran HAM bertaraf internasional, yang melibatkan anak petani dari Dukuh Kemusuk itu, berdasarkan UU HAM No. 39/1999 dan UU Pengadilan HAM No. 26/2000. Hanya kematian dapat meloloskan Soeharto dari jerat Pengadilan HAM.

Sementara itu, gugatan perdata Jaksa Agung berupa dakwaan korupsi sebesar Rp 1,379 triliun dan 419,636 dolar AS melalui tujuh yayasan yang diketuai Soeharto, dapat diwariskan kepada anak cucu dan kroni-kroninya, sesudah Soeharto meninggal.

Kematian Soeharto juga dapat mengurangi hambatan psikologis bagi pemerintah untuk mengusahakan penyitaan kekayaan keluarga Cendana di dalam dan di luar negeri, berdasarkan UU Anti-Pencucian Uang (Money Laundering) Nomor 15/2002 dan Nomor 25/2003.

Selama sepuluh tahun meneliti mekanisme penjarahan harta rakyat olehSoeharto bersama kerabat dan sahabat, penulis juga mendokumentasi pelanggaran HAM yang mengiringi akumulasi harta jarahan tersebut, dalam buku Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga:
Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa, terbitan LKiS, Yogya, Mei 2006. (46)



Sphere: Related Content

No comments: