20.1.08

Sepenggal kata ma'af

Oleh : Noor Wee

Kabar Indonesia - 19-Jan-2008, 14:33:18 WIB - [www.kabarindonesia.com]


KabarIndonesia - Kata Ma'af mudah diucapkan berat dilaksanakan. Dengan kata ma'af akhir-akhir ini terlalu sering didengar, dibaca, bahkan dibicarakan. Seolah-olah tema kata MA'AF menjadi bagian yang paling populer sehingga melupakan persoalan yang seharusnya menjadi skala prioritas.

Kesehatan Soeharto, mantan Presiden RI kedua semakin menurun. Hampir setiap hari dalam pemberitaan di media elektronik maupun media cetak tak ketinggalan, seolah merupakan komoditas yang mempunyai nilai jual tinggi.

Sebenarnya sudah tidak heran setiap Bapak Pembangunan ini diadili kemudian sakit, pengadilan berhenti dan ketika dirawat di rumah sakit bermunculan pro-kontra untuk mema'afkan beliau, saat beliau sudah dinyatakan sehat (pulang dari RS) pro-kontra tersebut hilang lenyap tak ada apa-apa. Tapi begitu kembali masuk RS seperti sekarang .... heboh lagi .... masalah ma'af-mema'afkan...

Sebagai orang kecil (wong cilik) sebenarnya tidak ada pengaruh yang signifikan dalam kehidupan sehari-hari bahkan tak ada pengaruhnya sama sekali terhadap perubahan perekonomian saat ini.
Yang buruh ya tetap buruh.., yang kere ya tetap kere.....

Jika Sang Maestro di era orba ini dima'afkan apakah akan sembuh? Apakah rakyat miskin di Indonesia akan lebih baik taraf hidupnya? Kalau memang dengan mema'afkan itu bisa menyembuhkan kesehatan beliau marilah semua orang miskin di Indonesia bersatu untuk mengadakan do'a bersama secara nasional dan mema'afkan atas kekhilafannya, agar senantiasa kemiskinan ini tidak melekat di tubuh kita.

Sekarang ini banyak pejabat, konglomerat, birokrat yang ramai-ramai 'meminta agar mema'afkan kesalahan beliau'. Sedangkan dari ahli waris saja tak ada yang secara langsung di depan pers menyatakan permintaan ma'af mungkin Pak Harto punya kesalahan.

Polemik antara memberi ma'af dan tidak seolah menelan segala penderitaan rakyat yang dilanda bencana (lumpur Lapindo, bencana alam disana-sini, kenaikan kebutuhan harga pokok,
pengangguran yang meningkat, dsb.), semestinya inilah yang mendapat skala prioritas untuk dicarikan pemecahan yang baik.

Tidaklah perlu kita beramai-ramai memikirkan Pak Harto yang sedang sakit, sudah ada yang lebih berkopenten tentang hal ini; yaitu putra-putrinya atau ahli warisnya. Sebagai sesama umat di dunia yang bersedia mendo'akan atau mema'afkan ya silakan, itu adalah hak indivividu tak perlu dioyak-oyak untuk mema'afkan.

Pak Harto adalah sosok orang Jawa yang mempunyai filosofi Jawa yang cukup tinggi, dan sebagai orang Jawa mesti tahu akan pepatah Jawa yang berbunyi: .... sing sopo gawe mesthi
nganggo..., becik ketitik, ala ketara (... siapa yang berbuat akan menanggung akibatnya,
perbuatan baik akan terlihat, perbuatan jelek akan tampak).

Dengan demikian masalah ini sebaiknya kita letakkan secara proporsional saja jangan berlebih-lebihan, masih banyak persoalan bangsa yang perlu dipikirkan. Serahkan saja pengadilan terakhir ditanganNYA. Ini baru permulaan atau tanda-tanda pengadilan dari Tuhan (bagi yang beriman).

Sebenarnya kita dilahirkan hidup ini sama dengan kita masuk ke pintu kehidupan dan berjalan menuju ke pintu kematian. Nah, bagaimana cara kita mengisi hidup ini dan mencari bekal untuk perjalanan menuju ke akhir jaman (pintu kematian - dan ini akan dijalani oleh semua orang yang sedang hidup, tidak bisa DITOLAK).

Tinggal bekal itu berupa kebaikan atau kejahatan. Gajah mati meninggalkan gading, macan mati meninggalkan belang ..... manusia mati meninggalkan nama. Ya nggak?

Sphere: Related Content

No comments: