15.1.08

Sidarto Danusubroto: "Perlakuan Terhadap Semua Presiden Harus Ada Standarnya Meski Berbeda Ideologi

Sidarto Danusubroto: "Perlakuan Terhadap Semua Presiden Harus Ada Standarnya Meski Berbeda Ideologi

Monday, 14 January 2008


Pelayanan kesehatan maksimal yang diterima presiden ke-2 RI, Soeharto mengundang keingintahuan publik mengenai standar pelayanan kesehaan yang diberikan Negara kepada para mantan presiden. Saat ini yang mengemuka adalah bagaimana Negara memberikan pelayanan kesehatan terhadap presiden pertama RI, Ir. Soekarno, dan mantan presiden Abdurahman Wahid atau Gus Dur. Ir. Soekarno, Soeharto, dan Abdurrahman Wahid merupakan mantan-mantan presiden yang menderita sakit ketika masih menjabat sebagai presiden maupun sudah tidak menjabat sebagai presiden, dan memerlukan jaminan perawatan kesehatan dari Negara.

Dalam sejarah perjalanannya, sebagaimana yang diuturkan Sidarto Danusubroto, mantan ajudan Bung Karno, saat Bung Karno menderita sakit tidak ada dokter dokter spesialis, karena dokter umum pun harus dipanggil dulu (on call).

Sebagaimana yang ditulis KOMPAS (13/1), "obat yang diberikan (kepada Bung Karno) pun hanya royal jelly (sejenis madu), vitamin B, B12, dan Duvadilan untuk mengatasi penyempitan darah. Padahal, Bung Karno mengalami gangguan fungsi ginjal. Obat yang lebih baik sudah ada, tetapi juga tidak diberikan, begitu juga mesin cuci darah."

Lain Bung Karno, lain pula Gus Dur yang saat ini menderita gangguan fungsi ginjal dan harus cuci darah ternyata juga merasakan pengalaman pahit, seperti yang dikemukakan oleh putri Yenny Zannuba Wahid. Menurutnya saat ini Gus Dur masih harus rutin ke rumah sakit untuk cuci darah, dan harusnya yang membiayai perawatannya adalah Negara. "Aturannya, negara yang menanggung biaya, tetapi kenyataannya tidak demikian. Susah sekali ditagihnya dan pernah jadi tunggakan RSCM sampai RSCM akhirnya minta keluarga saja yang bayar. Sampai sekarang Gus Dur juga cuci darah seminggu tiga kali, negara tidak pernah membantu," tutur Yenny sebagaimana yang dikutip KOMPAS.

Sidarto, yang saat ini berusia 72 tahun dan saat ini merupakan anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, berharap perbedaan pelayanan kesehatan oleh Negara terhadap orang-orang yang pernah berjasa bagi bangsa dan Negara tidak kembali terjadi pada siapa pun dan oleh siapa pun di negeri ini. "Perlakuan terhadap semua presiden harus ada standarnya meski berbeda ideologi politik," harapnya.

Begitu pula yang dikemukakan oleh Yenny yang berbesar hati atas perlakuan Negara terhadap pelayanan kesehatan yang diterima ayahnya yang juga merupakan mantan presiden RI. Menurut dia, yang terpenting bagaimana komitmen pemerintah memberikan akses pelayanan kesehatan untuk semua. "Kalau Gus Dur yang mantan presiden dan haknya diatur undang-undang saja diperlakukan seperti itu, apalagi rakyat," paparnya.

Sekalipun pelayanan kesehatan Negara yang diterima Bung Karno sangat jauh berbeda dengan pelayanan kesehatan yang diterima mantan prediden Soeharto saat ini, Puan Maharani cucu mendiang Bung Karno, menjelaskan, "keluarga Bung Karno tidak menaruh dendam terhadap Pak Harto atau pun keluarga Pak Harto. Seperti yang diajarkan oleh Ibu Mega agar kami menumbuhkan rasa kemanusiaan dan membiarkan proses (hukum) itu berjalan. Namun jika proses itu tidak memungkinkan untuk berjalan (yang bersangkutan meninggal dunia), kita sebagai manusia biasa harus bisa memaafkan," ungkap Ketua DPP PDI Perjuangan bidang Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan itu. [sfn]

 
 

Sphere: Related Content

No comments: