16.1.08

Simfoni Pemaafan Soeharto (1): Bangkitkan Iba lewat Televisi

Oleh George Junus Aditjondro

SETELAH Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memberikan sinyal pemaafan kepada mantan presiden Soeharto, yang sedang terbujur tak berdaya di ruang VVIP RSPP, melalui Jaksa Agung Hendarman Supandji, gelombang-gelombang imbauan pemaafan mulai mengudara, lewat media elektronik di Indonesia.

Tidak kurang dari seorang Amien Rais, mantan ketua MPR RI yang beberapa waktu lalu menegaskan perlunya Soeharto diadili sebelum dimaafkan, sekarang berbalik 180 derajat. Ia mengemukakan bahwa pertimbangan kemanusiaan lebih utama ketimbang pertimbangan hukum.

Selanjutnya, hampir setiap siaran berita televisi di Indonesia menayangkan imbauan pribadi dan kelompok di berbagai penjuru Tanah Air yang mengimbau pemerintah agar membatalkan status hukum Soeharto dan memaafkan semua kesalahannya. Mulai dari tokoh-tokoh nasional, seperti Guruh Soekarnoputera, sampai dengan anak-anak sekolah.

Stasiun-stasiun televisi swasta yang memberitakan adegan-adegan pemaafan Soeharto itu, praktis dimiliki oleh keluarga dan kroni-kroni Soeharto. Jum-lah stasiun terbesar dimiliki oleh PT Media Nusantara Citra (MNC), anak perusahaan PT Global Medicom (d/h Bimantara), yang menguasai lima stasiun televisi swasta (RCTI, SCTV, TPI, dan TV Global) sebagian besar sahamnya milik Harry Tanoesudibyo. Di kalangan bisnis, Harry dikenal dekat dengan Siti Hediyati Haryadi (Titiek), putri kedua Soeharto, yang pernah jadi mitranya dalam bisnis pialang saham.

Sedangkan Bambang Trihatmodjo, putera kedua Soeharto, masih memiliki saham minoritas (12%) dalam PT Global Mediacom. Dandy Rukmana, seorang putera Siti Hardiyani Rukmana (Tutut), duduk sebagai komisaris PT MNC, sementara ibunya masih memiliki separuh saham PT TPI.

Beberapa stasiun televisi swasta berlingkup nasional, dimiliki oleh kroni-kroni Soeharto atau tokoh-tokoh DPP Golkar, partai politik yang paling getol memperjuangkan pemutihan kesalahan-kesalahan Soeharto.

Antv, milik keluarga Aburizal Bakrie, Menko Kesra yang juga pengusaha dan politikus Partai Golkar, dan Agung Laksono, wakil ketua umum DPP Golkar. Metro TV, milik Surya Paloh, ketua Dewan Penasihat DPP Golkar.

Trans7, milik kelompok Para Group milik Chaerul Tanjung dan ahli waris Jenderal (Purn) Rudini, serta kelompok Kompas Gramedia.

Sedangkan Lativi, yang tadinya milik Abdul Latief, juga seorang tokoh Golkar, kini sudah dibeli oleh Antv, yang di-pimpin oleh Anindya N Bakrie, putera sulung Aburizal Bakrie.

Sementara itu Indosiar, milik kelompok Salim, di mana kepentingan keluarga Soeharto diwakili oleh Sudwikatmono, walaupun ratingnya lebih rendah dari pada stasiun-stasiun televisi swasta yang tersebut tadi, juga menyanyikan simfoni yang sama.

Jadi, boleh dikata, wacana yang disebarluaskan ke khalayak pemirsa siaran TV swasta di Indonesia, yang dikuasai oleh keluarga dan kroni Soeharto, adalah simfoni pemaafan bagi Soeharto. Dalihnya adalah bah-wa jasa-jasa Soeharto jauh lebih banyak ketimbang kesalahan-kesalahan nya.

Makin lama masa rawat inap mantan jenderal berbintang lima itu berlangsung, makin lama simfoni itu berlangsung. Berapa lama? Tergantung berapa lama penyakit Soeharto dapat dita-yangkan di stasiun-stasiun televisi swasta itu, disiarkan oleh radio-radio swasta milik PT MNC, dan diberitakan dengan foto-foto yang mengetuk rasa iba oleh tabloid-ta-bloid infotainment milik perusahaan media swasta itu.

Dengan terbatasnya liputan kamera jarak dekat, makanya, yang terus menerus ditayangkan di layar televisi kita, adalah foto Soeharto yang sedang terbaring tak berdaya, dengan segala pipa-pipa dan elektroda-elektroda yang terjulur dari dirinya. Suatu foto yang sungguh memilukan, yang sangat berpotensi membangkitkan rasa iba pemirsa.(60)

- George Junus Aditjondro adalah penulis ''Korupsi Kepresidenan: Reproduksi Oligarki Berkaki Tiga: Istana, Tangsi, dan Partai Penguasa'', tinggal di Yogyakarta.

 
 

Sphere: Related Content

No comments: