30.1.08

The Smiling General dan kesaksian di Kalitan

Oleh Antony Lee dan Sri Rejeki

http://www.kompas.co.id/read.php?cnt=.xml.2008.01.30.0713302&channel=1&mn=1&idx=1

Bukit Mangadeg tempat Astana Giribangun berada masih dipeluk kabut,
Selasa (29/1), sehari sesudah pemakaman presiden kedua RI, Soeharto.
Jam baru menunjukkan pukul 06.40, tetapi Sulaiman (38) sudah berada di
depan gerbang kompleks pemakaman itu.

Ia menempuh perjalanan lebih dari 16 jam dengan bus dari Bandung ke
Karanganyar, Jawa Tengah. Gerbang baru dibuka pukul 08.00.

Sulaiman, pengajar sebuah pondok pesantren di Bandung Selatan, mengaku
nekat berziarah ke Astana Giribangun, tanpa pamit kepada istrinya.
Senin pagi, selepas salat subuh, Sulaiman menumpang bus ke Solo.

Pria kelahiran Palembang ini mengaku punya kenangan khusus pada
Soeharto, ketika Presiden berkunjung ke SD 1 Yayasan Sosial Pendidikan
PT Pusri, Palembang, tempatnya bersekolah (1981). Siswa kelas empat
itu membuat bendera Merah-Putih dari kertas minyak untuk menyambutnya.
Dalam kenangan Sulaiman kecil, presiden kedua RI itu ramah dan murah
senyum kepada anak-anak.

Di mata Ny Yuliani (51), warga Lampung Utara yang datang berziarah
bersama suami dan dua saudaranya ke Giribangun, kemarin, senyuman
Soeharto selalu menenangkan dan kebapakan. Karena kesan yang kuat
itulah, Yuliani membolos dari pekerjaannya sebagai Lurah Desa Kotabumi
Tengah, Lampung Utara, untuk berziarah. "Pak Harto kalau marah atau
senang selalu terlihat senyum," kata Yuliani.

Sehari sesudah pemakaman Soeharto, Astana Giribangun dibuka untuk
peziarahan umum. Di Cungkup Argosari tempat Soeharto dimakamkan,
berdampingan dengan makam Ny Tien Soeharto yang meninggal tahun 1996,
foto Soeharto yang dipajang tidak sedang tersenyum lebar seperti yang
dikenal khalayak. Senyum ini pula yang menyebabkan Soeharto dijuluki
"The Smilling General".

Ismail Saleh (81), Menteri Kehakiman pada masa pemerintahan Soeharto,
yang berziarah ke Astana Giribangun pukul 09.20, mengemukakan,
sebagian besar rakyat terkesan oleh kebiasaan Soeharto tersenyum lebar
diiringi kepala mengangguk-angguk. "Ini tidak terlepas dari latar
belakang almarhum yang besar di lingkungan pedesaan sehingga rasa
kekeluargaannya tinggi."

Kalau Astana Giribangun, sekitar 40 kilometer arah timur kota Solo,
menjadi situs peziarahan yang bakal ramai dikunjungi orang, maka
Ndalem Kalitan tampaknya juga akan dilekati "aura" wibawa jenderal
berbintang lima itu,

Ndalem Kalitan, bekas rumah kediaman Gusti Ratu Alit, putri sulung
Sunan Paku Buwono (1893-1939), dibeli keluarga Soeharto, 1969. Tak
jelas harga rumah kediaman bangsawan seluas 9.000-an meter persegi
itu. Tetapi, menurut Ny Bambang Sentanu (72), salah seorang cucu Gusti
Ratu Alit, Ndalem Kalitan dibeli secara sah dan sukarela mengingat tak
ada anggota keluarga yang saat itu menetap di Solo.

Setelah direnovasi, Ndalem Kalitan jadi tempat tinggal Ny Soemoharyomo
(alm), ibunda Ny Tien Soeharto. Sejak itulah, Kalitan menjadi rumah
kedua bagi keluarga Soeharto, selain di Jalan Cendana, Jakarta.

Ketika Ny Soemoharyomo meninggal 30 Juli 1988, Ndalem Kalitan masih
menjadi rumah peristirahatan ketika keluarga itu berziarah ke
Giribangun. Ketika Ny Tien meninggal 28 April 1996, jenazahnya
disemayamkan semalam di Ndalem Kalitan, sebelum dimakamkan di Giribangun.

Semenjak itu, Ndalem Kalitan seperti kehilangan serinya. Sekalipun
begitu, anggota keluarga Soeharto kadang masih mampir di sana saat
berziarah ke Giribangun, seperti tradisi nyadran saat menjelang bulan
puasa.

Tetapi, praktis anggota keluarga Soeharto tak lagi kerap mengunjungi
Ndalem Kalitan. Menurut seorang petugas di Ndalem Kalitan, Soeharto
terakhir berkunjung ke sana tahun 2005. Bangunan joglo dengan halaman
luas di bagian depannya ini, selain hilang serinya, juga terkesan
kurang terpelihara. Kandang-kandang hewan peliharaan di sisi barat
halaman kosong. Yang tinggal barangkali adalah "legenda" tentang
keluarga Soeharto di hati sebagian warga Kalitan.

Seperti yang dialami Mbok Tris (72), pedagang cabuk rambak (ketupat
dengan sambal wijen) yang Selasa kemarin melenggang masuk langsung ke
bagian dalam Ndalem Kalitan. Keluarga Soeharto yang terdiri dari Siti
Hardiyanti Rukmana (Tutut), Sigit, Bambang Trihatmojo, Siti Hediyati,
Tommy, dan Siti Hutami (Mamik) berkenan menikmati cabuk rambaknya Mbok
Tris. Mbok Tris menuturkan, dengan dagangan cabuk rambaknya ia sudah
tiga kali diundang ke Ndalem Kalitan.

Pagi itu, selain cabuk rambak Mbok Tris, Ndalem Kalitan juga
mengundang penjual soto dan tahu kupat, lengkap dengan bakul
masing-masing. Soto Pak Di yang diundang, dulu juga menjadi kegemaran
Soeharto dan istrinya.

Dalam kesaksian Pak Di dan Mbok Tris, kondisi mental anak-anak
Soeharto sehari pascapemakaman tampak sudah seperti biasa, tidak
tampak shock lagi. Pak Di menangkap: percakapan anggota keluarga itu
sudah bisa menerima kepergian ayahanda mereka.

Ndalem Kalitan, Pak Di, dan Mbok Tris adalah sebuah kesaksian dari
Jenderal (yang selalu) Tersenyum itu.… (ASA)

Ardus M Sawega

www.kompas.com

 

Sphere: Related Content

No comments: