13.1.08

Soeharto 50:50

KELUARGA besar Harto diliputi rasa panik. Anak-anak, menantu dan cucu Harto berkerumun seperti lalat melihat aroma kembang gula. Kerabat dan kolega Harto pun berdatangan silih berganti. Mata mereka khusyuk dalam kesedihan ...

Mereka tak bisa berbuat apa-apa selain membekali hati dengan kepasrahan. Dipandanginya tubuh Harto yang terkulai tanpa daya di pembaringan itu. sesekali terdengar sengukan nafas yang terisak di belakang sana, entah siapa yang menahan tangis.

Setelah berhari-hari terkapar tanpa daya, kini Harto kembali harus memasuki masa kritis yang penuh tanda tanya. Entah di ilhami dari album Iwan Fals atau memang bahasa medis atau memang perkiraan belaka, dokter pribadi Harto bilang: "... kondisi Bapak 50:50 ..."

Wah, benar-benar praduga yang membuat jantung kerabat Harto berdetak lebih cepat dari biasanya! Yah, mungkin dokter pribadi Harto terlalu ngefans berat dengan lagu-lagu Iwan Fals dalam album 50:50 itu.

"Kalau alat bantu itu dilepas, maka dalam hitungan menit Bapak akan wafat," simpul dokter lagi. "Jika alat itu tetap terpasang, maka hidup Bapak akan dikendalikan oleh alat tersebut."

Waduh! Kalau benar begitu, tak ada bedanya Harto dengan robot. Yang bisa dikendalikan hanya dengan menyentuh tombol remote control. Mau bergerak ke kiri 'click button left', ke kanan 'click button right', maju 'click button up', mundur 'click button down'.

"Terus kalau mau tidur atau bangun tombol yang mana?" pertanyaan sejenis melintas dikepala cucu-cucu Harto. Dan sepertinya mereka
tak perlu membaca BUKU MANUAL, kan tinggal klik tombol ON atau OFF saja ...

Di atas ranjangnya Harto masih terlelap. Dokter pribadinya memang sudah memaksanya untuk tidur dengan mencekoki pil-pil sakti
berharga mahal. Bukan pil generik yang biasa dikonsumsi rakyat jelata atau obat sachet yang mudah ditemukan di kios-kios kali lima.

"Sampai kapan Bapak bisa bertahan?" pertanyaan itu meluncur di benak anak sulung Harto. Digenggamnya punggung lengan Bapaknya. Namun tak ada reaksi apa-apa. Dingin.

Ruangan terasa sangat senyap. Sepi. Hanya terdengar bunyi 'bip-bip' dari layar monitor yang secara real time memantau denyut jantung Harto tanpa henti. Garis dilayar itu berfluktuasi. Naik turun seperti kurs rupiah yang bersaing ketat dengan nilai dollar di bursa saham.

Diluar, diruangan lain, kerabat dan koleganya berbicara berbisik-bisik. Mimiknya serius. Entah apa yang mereka diskusikan. Sementara karangan bunga yang berjejer di koridor depan bukan alang kepalang banyaknya. Macam-macam bentuk tulisan 'semoga cepat sembuh', disematkan disana plus secarik kartu nama pengirimnya ....

Sphere: Related Content

No comments: