20.1.08

Soeharto boleh pulang

Jantung dan Paru-Paru Makin Baik

JAKARTA - Tak lama lagi mantan Presiden Soeharto sudah bisa kembali ke rumahnya di Jalan Cendana. Hal itu menyusul beberapa perkembangan positif pada organ tubuhnya pasca perawatan intensif selama lebih dari dua pekan di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP).

Meski demikian, tim dokter tidak memberikan garansi kapan mantan penguasa Orde Baru itu bisa pulang. Sebab, kapan Pak Harto bisa dirawat di rumah bergantung pada kapan alat bantu fungsi organ yang masih menempel di tubuhnya dilepas.

Apakah bisa dalam waktu satu minggu? "Insya Allah, itu harapan kami," jawab Mardjo Soebiandono, ketua tim dokter kepresidenan, di RSPP kemarin (19/1).

Menurut Mardjo, sejak 3-4 hari lalu tim dokter terus memantau perkembangan organ Soeharto setiap jam. Secara bertahap tim dokter juga melakukan penyapihan, yakni mengurangi ketergantungan terhadap alat-alat yang terpasang di tubuhnya.

"Karena beliau sudah berusia sangat lanjut, penyapihan harus lebih hati-hati," ujar Mardjo yang saat itu didampingi mantan Mensesneg Moerdiono sebagai wakil keluarga. Itu kali kedua Moerdiono hadir dalam keterangan pers tim dokter.

Berdasarkan hasil pemeriksaan pada pagi kemarin, tim dokter mencatat perkembangan positif hampir di seluruh organ Soeharto. Cairan yang selama ini memenuhi organ jantung dan paru-paru telah jauh berkurang. "Pemulihan beliau akan kami lakukan bertahap," katanya. Tekanan darah Soeharto pun masih stabil berada di angka 110/40 mmHg.

Fokus utama yang dilakukan tim dokter kepresidenan, lanjut Mardjo, adalah memeriksa perkembangan otot-otot Soeharto. Sebelumnya, akibat otot yang turut tak bereaksi,
pernapasannya terganggu sehingga harus menggunakan ventilator.

"Jika sekiranya otot-otot sudah pulih, ventilator bisa dilepas. Namun, kami juga harus
mempertimbangkan aspek medis lain," ujarnya. Dia menolak menjelaskan apa saja aspek medis lain itu.

Christian Johannes, anggota tim, menambahkan, meski mengharapkan bisa pulang dalam waktu dekat, Soeharto harus menjalani perawatan bertahap seperti pasien lain pada umumnya. "Lepas dari ICU, harus ada perawatan pemulihan dulu," katanya kepada Jawa Pos.

Di tempat yang sama, spesialis haemodialist Prof Ari Haryanto menyatakan, infeksi sistemik yang dialami Soeharto sudah jauh menurun. Kekhawatiran sepsis yang berkembang ke seluruh tubuh juga tak terjadi. "Kami optimistis infeksi itu segera sembuh," kata Ari yang juga anggota tim dokter kepresidenan itu.

Menurut Ari, secara klinis kondisi Soeharto hingga kemarin amat baik. Salah satu indikator utama yang dianggap positif adalah fungsi paru-paru Soeharto yang hampir terbebas dari infeksi. "Dari berbagai tanda dan responsnya, saya pikir mayoritas infeksi sudah hilang," ujarnya.

Satu hal yang menjadi catatan khusus Ari adalah daya tahan tubuh Soeharto yang baik. Kemampuan Soeharto melawan sepsis di usia 86 tahun jarang terjadi. "Sistem kekebalan tubuh beliau bagus. Itu juga faktor yang membantu pengobatan secara klinis," katanya memuji. Meski membaik dari hari ke hari, tim dokter tetap melarang Soeharto mendapat kunjungan langsung.



Tap MPR Gagal

Di luar RSPP, sedikitnya 500 orang yang tergabung dalam Kesatuan Rakyat Adili Soeharto (Keras) kemarin berdemo. Mereka mendesak pemerintah agar tidak lagi bertele-tele dalam menyelesaikan kasus hukum Soeharto.

Kadiv Reformasi Institusi dan Pemantauan Impunitas Kontras Haris Azhar menyatakan, pemerintah saat ini tidak punya solusi dalam menyelesaikan kasus Soeharto. Itu terlihat dari sikap pemerintah yang mencoba menyelesaikan kasus Soeharto di luar pengadilan hukum. "Tidak hanya itu, pemerintah saat ini hanya terpuaskan dengan Tap MPR," kata Haris di sela-sela aksi tersebut.

Menurut Haris, pemerintah seharusnya tidak hanya melihat Soeharto sebagai satu-satunya orang yang patut diajukan secara hukum. Sebab, dia hanyalah simbol dari berbagai pelanggaran yang terjadi saat berkuasa. "Lihat orang-orang yang menjenguk Soeharto. Mereka seakan cuci tangan dengan memanfaatkan Soeharto saat sakit," katanya.

Haris juga mengkritik sikap parpol yang berlomba-lomba menyatakan agar rakyat memaafkan Soeharto. Menurut Haris, yang berhak memaafkan Soeharto adalah pihak ataupun orang-orang yang dirugikan dan dimenderitakan oleh Soeharto. "Kalau parpol-parpol baru itu, apa mereka terlibat secara hukum dengan Soeharto? Lain halnya kalau PKI," tegasnya.

Di tempat yang sama, Ketua Lembaga Pengkajian Demokrasi dan Negara Kesejahteraan Fajrul Rahman menyatakan, persoalan hukum Soeharto tetap bisa dilakukan secara in absensia bila dia meninggal dunia. "Pemerintah harus melihat penyelesaian kasus hukum di luar negeri. Meski terdakwanya meninggal, keluarga dan kroni tetap bisa diajukan secara hukum," katanya.

Fajrul memberikan fakta bahwa mantan penguasa Chile Augusto Pinochet -yang sudah meninggal- diputus bersalah dengan menyeret istri, 5 anak, dan 3 jenderal kepercayaannya.

Selain itu, pemimpin Khmer Merah Pol Pot saat ini diajukan ke pengadilan dengan membawa tiga perwira Khmer Merah. "Pemerintah harus berani membuat aturan hukum baru demi
menjerat Soeharto. Tap MPR saat ini terbukti gagal di empat presiden," tegasnya. (bay/fal)

Jawa Pos - Minggu, 20 Jan 2008

Sphere: Related Content

No comments: