31.1.08

Soeharto dan anak-anaknya: "Kowe pancen sing bener, Ben!"

Oleh Kristanto Hartadi

JAKARTA-Ini sebuah kisah yang dituturkan oleh seorang mayor jenderal yang kini masih aktif. Dia pernah sangat dekat dengan almarhum Jenderal (purn) Leonardus Benny Moerdany, mantan Menhankam dan mantan Panglima ABRI, orang paling kuat kedua di Republik Indonesia setelah Presiden Soeharto pada periode 1983-1993.

Menurut jenderal itu, ketika Benny Moerdany sudah berada di puncak sakit stroke yang dideritanya, Soeharto datang menjenguk mantan pembantu dekatnya itu dan ada ucapan khusus yang disampaikan kepada Benny, dalam bahasa Jawa: "Kowe pancen sing bener, Ben. Nek aku manut nasihatmu ora koyo ngene" (memang kamu yang betul, Ben. Kalau saya menuruti nasehatmu mungkin keadaan tidak seperti sekarang). Benny yang sudah sulit bicara karena sakitnya, hanya menangis sesenggukan.

Menurut sumber itu, ucapan Soeharto itu diulang kembali di depan jenazah ketika melayat LB Moerdani yang akhirnya meninggal dunia karena strokenya itu pada 29 Agustus 2004.

Episode itu, yang mudah-mudahan bisa dituangkan secara lebih terperinci dalam sebuah buku oleh sang saksi mata, akan lepas begitu saja bila kita tidak melihat kaitan-kaitan di belakangnya.

Tentu saja yang dimaksud Soeharto adalah situasi hiruk-pikuk dan kacau-balau yang terjadi dalam kancah kehidupan sosial politik di Indonesia seusai kejatuhannya pada 21 Mei 1998, yang memulai Era Reformasi. Mereka yang menikmati "kemapanan" semasa kekuasaan Orde Baru pastilah pusing kepala melihat segala tatanan dijungkirbalikkan di Orde Reformasi ini. TNI tidak lagi punya gigi, pemerintah juga seperti tak berdaya, kerusuhan pecah di mana-mana, Timor Timur merdeka, dan seterusnya, dan seterusnya.

Menurut catatan penulis biografi, Julius Pour, dalam buku Benny Tragedi Seorang Loyalis, perpecahan Soeharto dan Benny berawal di suatu malam dari sebuah insiden di ruang bilyar di Jalan Cendana, kediaman Soeharto, saat kedua orang kuat di republik ini main bilyar bersama. Ketika itu Benny mengingatkan Soeharto bahwa untuk pengamanan politik presiden, seluruh keluarga dan presiden harus mendukung dan terlibat. "Begitu saya angkat masalah tentang anak-anaknya tersebut, Pak Harto langsung berhenti main. Segera masuk kamar tidur, meninggalkan saya di ruang bilyar… sendirian," kata Benny seperti dituturkan oleh dr Ben Mboi, mantan gubernur NTT.

Sejak saat itu posisi Benny surut di mata Soeharto, karena berani mengingatkan presiden untuk secara sukarela mundur karena telah memimpin lebih dari 20 tahun. Dia dicopot sebagai Panglima ABRI pada tahun 1988, digantikan Jenderal Try Sutrisno, mantan ajudan presiden, namun masih diberi jabatan sebagai Menteri Pertahanan (1988-1993), karena Soeharto khawatir Benny berontak.

Ketika sudah tidak di pemerintahan, Benny berkata bahwa masa pemerintahan Soeharto yang kelima adalah yang terakhir. "Masak setelah 25 tahun masih terus?" itu katanya. Namun tidak pernah dijelaskan bagaimana cara Soeharto akan atau harus mengakhiri kekuasaannya, karena kesadaran itu harus datang dari Soeharto sendiri. Dan akhirnya memang Soeharto diturunkan oleh gerakan reformasi pada 21 Mei 1998.

Melindungi Anak-anaknya

Melindungi anak-anaknya mungkin merupakan salah satu alasan kenapa Soeharto enggan melepaskan jabatannya, atau mempersiapkan cara-cara menjalankan suksesi. Padahal wacana suksesi sudah banyak dilontarkan berbagai pihak dan berbagai skenario sudah disusun, termasuk oleh Mabes TNI di Cilangkap. Tetapi tidak ada yang berani melawan Soeharto.

Memang, ketika Benny mengingatkan Soeharto dan keluarganya agar menjaga dan melindungi kepresidenan, anak-anak Soeharto beserta kroni mereka baru mulai membesarkan kerajaan bisnis masing-masing dengan memanfaatkan kekuasaan sang ayah.

Mengenai hal ini, mantan PM Singapura Lee Kuan Yew menuturkan dalam buku memoarnya From Third World to First: The Singapore Story, dia secara pribadi pernah bertemu dengan anak-anak Soeharto pada 25 Desember 1997 di Singapura, yang juga dihadiri oleh PM Goh Chok Tong. Dia mengingatkan mereka agar berhenti menjalankan praktik bisnis yang tidak sehat, karena mereka diincar oleh para fund manager yang gerah dengan tingkah polah itu dan bisa saja memainkan nilai tukar rupiah. "Perilaku anak-anak Soeharto menyumbang kejatuhan orang tuanya," tulis Lee dalam memoar yang diluncurkan pada September 2000 tersebut.

Memang, bisnis anak-anak dan kroni Soeharto begitu merajalela, memasuki hampir setiap sektor kehidupan, mulai dari pengadaan barang bagi TNI/Polri dan berbagai instansi pemerintah, real estate, otomotif, jalan tol, bank, minyak, perkebunan, telekomunikasi, properti, impor beras, bungkil, kedelai, peternakan, ritel, komputerisasi SIM dan STNK, stiker halal, penerbangan, taksi, pertambangan, kehutanan, dan lain-lain.

Mereka tidak berbisnis sendiri, dan pada umumnya mereka juga menggandeng sejumlah konglomerat yang menjadi kroni. Banyak pihak yang menilai pada masa itulah Soeharto sudah seperti raja Jawa, dan membiarkan anak-anak maupun kroni-kroninya berbuat sesukanya. Negara seperti milik keluarganya dan dia melindungi.

Salah satu modus lainnya untuk mengumpulkan uang adalah dengan mendirikan berbagai yayasan, atau mereka menjadi calo untuk menggolkan berbagai proyek pemerintah, atau mereka menguasai tata niaga, mulai dari cengkih, jeruk pontianak, cukai minuman keras, dan lain-lain.

Misalnya saja, untuk PT Sarpindo yang sahamnya dikuasai Hutomo Mandala Putra, Bob Hasan dan Lim Sioe Liong, satu-satunya perusahaan yang mengimpor kedelai untuk Bulog, pemerintah harus menyubsidi perusahaan ini senilai US$ 21 juta per tahun. Dan ketika Menteri Pertanian Wardoyo (ketika itu) meminta pemerintah mengakhiri monopoli impor ini karena sangat tidak kompetitif, Soeharto hanya berkata: "Kalau mau membunuh Sarpindo, silakan." Ujung-ujungnya, semua yang mengusulkan deregulasi impor bungkil ini akhirnya mundur teratur. Hal yang sama terjadi dengan impor gandum yang ketika itu dimonopoli perusahaan milik Lim Sioe Liong. (Adam Schwarz, A Nation in Waiting, hal 133-134).

Monopoli dan menjadi calo adalah cara yang ditempuh anak-anak dan para kroni Soeharto untuk membesarkan kerajaan bisnis mereka. Siapa yang tidak kenal dengan kelompok bisnis anak-anak Soeharto seperti Bimantara (Bambang Trihatmojo), Citra Lamtoro Gung (Siti Hardiyati Rukmana), Humpuss (Hutomo Mandala Putra), bahkan sampai cucu Soeharto pun ikut terjun berbisnis. Bahkan di antara mereka pun berebut proyek. Sampai-sampai ada yang menyebutkan bahwa yang paling transparan di Indonesia pada masa itu adalah korupsi! Majalah Time pernah menyebut dari berbagai bisnis ini keluarga Soeharto berhasil mengumpulkan kekayaan hingga US$ 15 miliar.

Bisnis anak-anak Soeharto, seperti Bank Andromeda dan mobil "nasional" merek Timor yang sebenarnya buatan perusahaan Korea KIA, termasuk dalam kegiatan usaha yang diminta oleh IMF untuk diakhiri sebagai salah satu syarat dalam letter of intent ketika Indonesia akhirnya minta bantuan kepada dunia internasional karena krisis ekonomi 1997.

Namun hebatnya, meski ditengarai banyak hal yang tidak wajar dari bisnis anak-anak Soeharto, hanya Tommy saja yang tersandung di sana dan di sini. Lima anak Soeharto yang lain sampai hari ini aman-aman saja. Yang menjadi pertanyaan, kini, setelah Soeharto tiada, apakah anak-anaknya masih bisa tenang menikmati kekayaan yang pernah mereka jarah dari Indonesia? Kita lihat saja...

Sphere: Related Content

1 comment:

balidreamhome said...

easy come easy go, sebuah tulisan yang menarik dan mengingatkan kepada pembaca betapa super kaya negara kita, yang lebih menarik sebenarnya bukan apakah anak - anak mantan presiden ini masih bisa menikmati kekayaan hasil jarahan dengan tenang tetapi siapa lagi yang bakal bercerai dan kawin lagi, setelah itu cerita akan berakhir dengan rebutan harta jarahan antar keluarga mereka sendiri :-)