19.1.08

Soeharto: "Deal or No Deal"

Oleh Idham Khalid

Soeharto sakit lagi. Kali ini sakitnya begitu menyiksa sehingga dia berpikir mungkin lebih baik mati saja daripada menderita. Kalo dihitung sejak dari tahun 2001, entah sudah berapa kali dia jatuh sakit. Bahkan sejak tahun 2002 di tubuhnya sudah dipasang alat kecil untuk memacu jantung. Sekarang ini dia diopname lagi di lantai 5 Rumah Sakit Pusat Pertamina.

Malaikat sakaratul maut juga sudah beberapa hari berada di kamar Soeharto. Soeharto sendiri sebenernya sudah pasrah dan siap menyerahkan nyawanya. Anehnya Sang Malaikat belom juga mencabut nyawa calon korbannya. Rupanya, berbeda dengan manusia lainnya, Malaikat tidak mau mencabut nyawa Soeharto begitu saja. Malaikat ternyata juga menyayangi Soeharto. Dia ingin Mantan Presiden itu wafat dalam keadaan tanpa hutang. Karena itulah dia mencoba memberikan penawaran khusus pada Soeharto.

"Wahai Soeharto. Saya punya penawaran untukmu."

"Penawaran apa Malaikat? Lebih baik kau cabut saja nyawa daripada saya. Bukankah keadaan daripada saya sudah sekarat? Saya tidak kuat lagi menahan sakit ini." Jawab yang ditanya sambil meringis kesakitan.

"Begini penawarannya." Kata Malaikat tanpa memperdulikan omongan Soeharto. "Kalo kau kembalikan seluruh hartamu pada Negara, nyawamu akan saya cabut sekarang dan hilang pula semua penderitaan yang kau derita selama ini."

Soeharto berpikir keras. Dia sebetulnya udah ga tahan lagi menahan sakit. Sebenernya dia berpikir mau mati aja, cuma ada satu masalah. Dia juga masih sayang sama hartanya. Masa capek-capek ngumpulin uang selama 32 tahun tau-tau harus dihibahkan pada Negara? Rugi dong…

Belom sempat Soeharto mengambil keputusan, Sang Malaikat mengeluarkan sebuah kotak putih transparan. Soeharto kebingungan, kotak apa itu? Pikirnya. Sang malaikat membuka kotak dan terlihatlah sebuah tombol merah berada tepat di tengah kotak itu. Perlahan tapi pasti, Malaikat
menyodorkan kotak itu padanya.

"Nah Soeharto. Kalo Anda menerima penawaran saya, silakan pencet tombol merah ini. Kalo Anda menolak, silakan tutup lagi kotak ini.

Soeharto cuma mengangguk.

"OK? Nah pertanyaan saya : DEAL OR NO DEAL?"

Karena sudah ga kuat menahan sakit, Soeharto bermaksud memencet tombol merah agar terlepas dari penderitaannya. Tapi tiba-tiba dia ingat pada anak-anaknya. Apakah Anaknya bisa berbisnis kalo semua uang dikembalikan pada Negara? Sebuah dilema yang sangat sulit.
Pilihan mana yang good deal? Kalo mengatakan `Deal' kesakitan yang luar biasa dapat dilepaskan dengan resiko ga punya uang sama sekali. Kalau mengatakan `No Deal' sakit makin berlarut-larut tapi bisa memberikan harta yang banyak pada keluarganya.

Karena begitu sayang pada keluarga, akhirnya dengan tegas Soeharto menutup kotak transparan itu dengan keras; BRUK! Lalu sambil menggerakkan kedua tangannya dengan gerakan menyilang, Soeharto berteriak ;"NO DEAL!!!!!"

Malaikat terkejut dengan keputusan Soeharto. Katanya;" Dari semua manusia yang sedang menghadapi maut, Anda adalah orang pertama yang berani menolak penawaran sebesar itu. Anda adalah seorang risk taker sejati."

"Sudahlah malaikat. Silaken ambil nyawa daripada saya. Karena keadaan daripada saya sudah sakit tak tertahanken. Tolong cabut nyawa saya." Rayu Soeharto sambil menyeringai menahan sakit.

Malaikat diam saja. Tampaknya dia juga bingung apa yang harus dilakukan. Tiba-tiba terdengar suara telepon berdering. Malaikat mengeluarkan handphonenya dari kantong. Perlahan-lahan dia membalikkan badan, berjalan beberapa langkah menjauh dari Soeharto lalu melakukan percakapan, entah bicara dengan siapa.

Soeharto melihat Malaikat bercakap-cakap dengan suara berbisik. Nampaknya Malaikat cuma mendengarkan petunjuk saja dari pihak yang ditelponnya. Karena Soeharto lamat-lamat mendengar Si Malaikat beberapa kali hanya mengucapkan kata;"Baik." Diam sebentar,
mengangguk-nganggukan kepalanya lalu berkata lagi "Baik. Baik."

Klik. Malaikat mengakhiri pembicaraannya. Menaruh handphone dalam kantong. Dengan gerak perlahan, dia membalikkan badan dan menghampiri Soeharto kembali. Yang dihampiri semakin cemas, rasa sakit yang amat sangat kembali menyerang. Setelah saling diam sejenak percakapan berlangsung kembali.

"Baik. Karena Anda menolak, saya akan memberikan penawaran baru. Nyawa Anda saya cabut sekarang, tapi Anda harus mengembalikan separuh saja dari harta Anda. Jadi tidak perlu semuanya. Cukup separuh saja. Bagaimana? Anda boleh meminta pendapat dari keluarga. Waktu Anda tidak banyak, saya beri waktu berdiskusi 10 detik." Kata Malaikat.

Semua keluarga memang sedari tadi sedang berkumpul mengerubungi Soeharto. Anak, mantu, ponakan, cucu, sepupu pokoknya semua hadir di sana. Mereka mengeluarkan pendapatnya. Dan tidak sampai 5 detik kesepakatan tercapai. Mereka semua menganjurkan Soeharto untuk
menolak penawaran itu. Yah keluarga mana sih yang rela kehilangan bapak sekaligus puluhan trilyun melayang? Mereka terus membisikkan ke telinga Soeharto untuk menunda kematiannya.

Soeharto semakin bingung. Keadaannya semakin lemah sementara rasa sakit semakin membuat dirinya menderita. Dengan pandangan berawan, dia menatap satu persatu ke arah seluruh anggota keluarganya. Semuanya balas memandang dengan hati tegang dan mata penuh harap

"Yak sepuluh detik sudah habis." Kata Malaikat. Kembali dia mengeluarkan kotak transparannya, membukanya perlahan lalu menyodorkannya ke arah Pak Harto.

Dengan wajah kesakitan, Pak Harto memandang tombol merah besar di tengah kotak transparan itu. `Ah kalo saya pencet tombol merah, berakhirlah penderitaan daripada saya. Apa saya pencet aja ya? Pikirnya. Rasa bimbang kembali menyerang. Rasa sakit di tubuh dan
rasa sayang pada keluarga kembali bertarung tanpa saling mau mengalah.

"Deal or No Deal?" Malaikat bertanya lagi.

Rasa cinta yang begitu besar pada keluarga, membuat Soeharto mengambil keputusan untuk melawan rasa sakitnya. Dengan keras, sekali lagi dia menutup kotak transparan. Seperti sebelumnya, dia menggerakkan kedua tangannya dengan gerakan menyilang sambil
berteriak:"NO DEAL!!!"

Malaikat semakin termangu-mangu. Dia tidak berkata sepatah kata pun. Tiba-tiba Soeharto berteriak kesakitan, rupanya setiap kali dia menolak penawaran Malaikat, rasa sakitnya semakin meningkat.

Keluarganya pun panik dan dokter dipanggil. Team dokter yang terdiri atas 40 orang itu segera bergegas berusaha menolong si pasien kelas atas ini. Bayangkan, untuk menolong satu orang, 40 dokter ahli diterjunkan. Masing-masing adalah ahli kesehatan dengan spesialisasinya masing-masing.

Setelah diberi banyak pain killer, Soeharto bisa agak tenang. Matanya bergerak ke sana ke mari mencari Malaikat yang selalu ada di dekatnya. Ternyata yang dicari berdiri di dekat jendela sedang melakukan pembicaraan telpon. Seperti tadi Soeharto hanya mendengar Malaikat mengucapkan kata yang sama beberapa kali, yaitu "Baik. Baik. Baik."

`Siapa sih yang sedang kasih instruksi? Pikir Eyang Harto.

Malaikat tiba-tiba menghampiri Soaharto lagi."Baik. Perlu diketahui bahwa semakin sering Anda mengatakan `No Deal' permainan ini akan jadi semakin panjang. Kali ini saya akan memberikan good deal. Anda harus mengembalikan seperempat uang Anda atau saya akan mengambil
paru-paru Anda."

Soeharto tercengang mendengarnya,"Kalau paru-paru daripada saya diambil, tentunya saya akan mati, bukan?"

"Jelas ga dong. Justru Anda akan tetap hidup tapi makin menderita tanpa paru-paru." Malaikat menjelaskan.

Nah loh. Gimana ga pusing Eyang Harto. Dalam kondisi separah itu kok malahan paru-paru mau diambil. Tapi Soeharto cukup optimis kali ini keluarganya akan merelakan dirinya menyerahkan seperempat harta yang dimilikinya. Seandainya akhirnya dia mati pun pastinya akan lebih tenang. Karena tiga perempat hartanya masih di tangan dan masih lebih dari cukup untuk menghidupi keluarganya selama lebih dari 7 turunan.

"Deal or No Deal?" Perkataan Malaikat tiba-tiba menyadarkannya dari lamunan.

Setelah berembuk sedemikian lama ternyata keluarga Cendana tetep ga rela kehilangan harta. Soeharto sedih bukan main. Mau menolak tapi bagaimana? Ga sanggup hatinya melihat anak-anak hatinya terluka. Dengan suara kurang mantap dia kembali membanting tutup kotak,
mengatakan `NO DEAL!!' Tentu saja tidak lupa menggerakkan kedua tangannya secara menyilang.

"Dokter!!!!!" Serempak teriakan keluarga terdengar ke seluruh pelosok rumah sakit.

Kepanikan tidak berlangsung lama. Dokter mengatakan pada keluarga bahwa fungsi paru-paru Soeharto sudah tidak berfungsi. Akan tetapi keadaannya masih sangat baik dan terkendali. Karena dengan cepat team dokter memasang ventilator atau alat bantu napas untuk menggantikan tugas paru-parunya. Semua orang pun merasa lega dan sama sekali tidak
menyesali keputusan yang telah diambil.

Suasana semakin tegang. Malaikat kembali menjawab panggilan telepon. Sementara keluarga Cendana membentuk lingkaran dan berdiskusi untuk mengantisipasi penawaran Malaikat berikutnya.

Kembali Malaikat memberikan penawaran yang sangat sulit. ."Baik. Sekali lagi Anda mengatakan `No Deal' maka kondisi Anda akan semakin gawat. Kali ini saya akan memberikan penawaran lagi. Anda harus mengembalikan sepersepuluh uang Anda atau saya akan mengambil jantung dan ginjal Anda."

Semua orang merinding mendengar penawaran yang mengerikan itu. Kali ini diskusi jauh lebih panjang daripada sebelomnya. Sebagian keluarga setuju untuk menyerahkan harta. Kenapa tidak? Toh cuma sepersepuluh saja? Begitu argumentasinya. Sayangnya, sebagian keluarga yang lain tetep tidak rela melepaskan uang begitu saja. Keluarga kita kan keluarga besar, jadi perlu uang yang sangat banyak, begitu alasan mereka. Setelah melalui perdebatan semakin keras diputuskan untuk menganjurkan Eyang Harto untuk menolak penawaran itu.

Perlu diingat bahwa keluarga hanya bisa memberikan usulan saja. Keputusan akhir tentu saja sepenuhnya ada di tangan Soeharto. Sementara itu, kembali Malaikat menghampiri ranjang dengan kotak transparannya. Dengan sangat perlahan dia membuka kotak dan
menyodorkannya pada Soeharto.

"OK Soeharto. DEAL OR NO DEAL?" Tanya Malaikat dengan suara dalam dan berwibawa.

Sunyi! Ketegangan mencapai puncaknya. Sebatang jarum pentul pun pasti akan terdengar dengan jelas apabila jatuh ke lantai beralas karpet.

Semua anggota keluarga menahan napas dan memandang Sang Eyang. Sang Eyang menatap ke arah tombol merah dengan pandangan hampa. Detik jarum jam berdetik semakin lambat. Semburan AC terasa semakin dingin.

"NO DEAL!!!" Seperti suara Swan Song, Soeharto memberikan pilihannya.

Fatallah keadaan Eyang Harto kali ini. Keadaannya menjadi sangat kritis. Seluruh anggota keluarga menangis menggerung-gerung. Mereka menyesali keputusan `No Deal' terakhir. Mereka menyadari keputusan itu telah membuat Eyang Harto semakin menderita.

Ambruknya kesehatan Pak Harto membuat seluruh negeri gempar. Ratusan wartawan dalam dan luar negeri berkumpul di Rumah Sakit Pusat Pertamina. Semua televisi memberitakan keadaannya yang sangat gawat. Bahkan acara infotainment yang biasanya cuma menayangkan gosip-gosip kampungan pun banting setir, memberitakan keadaan mantan orang nomer
satu Negara ini.

Suka atau tidak suka, kita harus mengakui Soeharto itu orang besar. Udah ampir 10 tahun dia lengser dari kursi kepresidenan tapi power dan kharismanya masih tetep besar. Udah berusia 87 tahun, sudah tua renta, sudah sakit-sakitan, sudah banyak organnya yang ga berfungsi, sudah ga bisa berdiri, sudah ga bisa ngomong bahkan sudah dibilang mengalami kondisi sangat kritis tapi malahan pamornya makin berkibar.

Di berbagai pelosok negeri banyak orang yang mendoakannya. Di kota dan di desa, berbagai suku dan berbagai komunitas agama mendoakan untuk kesembuhannya. Hebat banget pengaruhnya ya? Kalo jaman dulu, kan ada kegiatan kebulatan tekad di seluruh negeri untuk mendukung Soeharto agar dipilih lagi sebagai presiden…nah itu pasti rekayasa. Tapi masyarakat yang mendoakannya sekarang? Saya punya kecurigaan acara doa bersama itu benar-benar tulus. Di jaman sekarang ini mana bisa memberi tekanan lagi ke berbagai komunitas untuk memaksa mereka berdoa?

Tokoh-tokoh besar yang memberi perhatian juga banyak banget. Dari temen-temen, musuh-musuh, artis-artis, handai taulan, mantan pejabat, pejabat yang masih menjabat sampai tokoh agama kondang seperti A'a Gym sekalipun merasa berkepentingan untuk menjenguk Eyang Harto.

Mantan presiden BJ Habibie juga menyempatkan diri terbang ke Jakarta dari Frankfurt untuk menjambangi guru politiknya ini. Lebih hebat lagi, Presiden SBY sampe mempercepat kunjungan kenegaraannya ke Malaysia dan buru-buru pulang ke Jakarta, dan semua itu lagi-lagi
hanya gara-gara pengaruh Soeharto.

Bukan hanya dari dalam negeri, bahkan tokoh-tokoh besar dari Negara jiran pun begitu menaruh respek sama Soeharto. Mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohammad mengunjungi Soeharto ke Jakarta padahal dia sendiri dalam keadaan kurang sehat. Begitu juga mantan Perdana Menteri Singapore, Lee kuan yew dan Sultan Bolkiah dari Brunei sampai
memerlukan diri terbang dari negaranya hanya untuk menjenguk Soeharto ck…ck…ck…

Adakah tokoh orde baru yang tidak menjenguk tokoh besar ini? Ternyata ada loh! Dari sekian banyak mantan pejabat tinggi yang belom datang membesuk Soeharto adalah Harmoko. Banyak orang yang mempertanyakan ketidakpedulian Harmoko. Mereka merasa aneh. Bukankah mantan Menteri Penerangan ini adalah orang yang paling menghormati Soeharto? Mengapa
sekarang dia begitu berani menentang arus?

Konon seorang wartawan berhasil menemui Harmoko di kediamannya. Dan terjadilah percakapan seperti di bawah ini.

Wartawan : Bung Harmoko, mengapa Anda tidak mau membesuk Soeharto?

Harmoko : Hus! Anda jangan bicara sembarangan. Justru saya adalah orang pertama yang berniat untuk membesuk beliau.

Wartawan : Oh ya? Lalu kenapa sampai sekarang kok belom besuk juga? Hampir semua pejabat orde baru sudah datang loh.

Harmoko : La iya itu masalahnya. Saya belum berani datang karena saya masih menunggu petunjuk dari Bapak Presiden Soeharto…

Hahahahahaha….ternyata dia masih juga menggunakan jurus itu. Tapi terlepas dari kebenaran cerita di atas, hal itu tetap merupakan pengakuan bahwa betapa powerfulnya Soeharto hingga saat ini.

OK sekarang kita kembali ke Rumah sakit tempat Eyang Harto dirawat. Beberapa jam setelah merawat Soeharto akibat tidak berfungsinya jantung dan ginjal, Konferensi Pers pun diselenggarakan oleh team dokter kepresidenan. Saat itu Dokter Mardjo Soebiandono sebagai ketua team memberikan statement yang sangat membingungkan. Dia mengatakan begini.

"Kondisi Pak Harto kami nyatakan dalam keadaan sangat kritis. Organ tubuh vitalnya sudah banyak yang tidak berfungsi yaitu Jantung, paru-paru dan ginjal. Kami telah memberi tahu keadaan beliau pada seluruh keluarga. Dan pihak keluarga sudah pasrah dan siap sepenuhnya
menerima hal yang paling buruk…"

Seorang wartawan bertanya : Kalau kondisi sangat kritis, artinya berapa persen peluang hidup Pak Harto?

Namanya juga kondisi sangat kritis dan keluarga sudah siap menerima kematian Soeharto, tentu seharusnya Dokter itu menjawab `tidak ada harapan' atau `paling banyak 10% harapan hidupnya' gitu kan? Nah sekali lagi kebesaran nama Soeharto cukup membuat keder Sang Dokter.

Dengan gugup dan rada salah tingkah Si Dokter menjawab "Kemungkinan hidup Soeharto fifty – fifty."

Beberapa wartawan yang berada di belakang mencemooh jawaban Si Dokter. Salah seorang berkata perlahan pada rekan-rekan yang ada di dekatnya.

Wartawan 1 : Kalo fifty-fifty mah belom sangat kritis dong?

Wartawan 2 : Soeharto memang hidupnya masih lama.

Wartawan 3 : Kok lu tau masih lama?

Wartawan 2 : Besok kalo ada konperensi pers lagi, terus ditanya gimana peluang hidup Soeharto, gue udah tau jawaban dokter itu.

Wartawan 4 : Apa jawabannya?

Wartawan 2 : Hari ini dia kan jawabnya fifty-fifty. Besok kalo kita nanya lagi peluang hidup Soeharto, dia akan jawab `ask the audience.' Besoknya lagi dia akan bilang `phone a friend' Hahahahahahaha….

Wartawan 4 : Hahahahahahahahahahaha….. itu mah quiz `Who wants to be a millionaire. Acara itu udah ga tayang lagi.

Wartawan 1 :Betul! Quiz yang lagi tayang sekarang `Deal or No Deal'

Wartawan 3 : Jangan-jangan dia lagi main quiz Deal or No Deal dengan Malaikat pencabut nyawa?

Sebelom sempat yang lain menyahut, tiba-tiba angin dingin entah darimana berkelebat ke arah kelompok wartawan itu. Tanpa sebab bulu kuduk mereka berdiri. Mereka semua merinding ketakutan. Entah apa sebabnya…

Hiiiiiiiiiii……serem!

Sphere: Related Content

No comments: