13.1.08

Soeharto, hidup segan mati tak mau

Bulik Mulayani ke rumah. Tiba-tiba muncul sebelum bapak dan ibu pulang. Lalu terjadilah percakapan antar orang tua tentang keluarga. Ya, memang beliau dikenal dekat dengan keluarga.

Lalu bapak dan ibu pulang. Tinggallah kesunyian yang berdiam. Sesekali terpantul gema dari gesekan para tukang yang mengamplas tembok dengan cepatnya. Selain itu cuma kebosanan.

"Pak Harto kasihan, raganya sudah tak mampu, tapi belum juga dipanggil".

Lalu bulik Mulyani mengambil koran, membaca headline-nya. Nampaknya kurang puas, lalu berpindah ke channel televisi. Satu yang dicari : berita tentang Pak Harto. Ya, Bulik Mulyani yang sederhana dan polos tiba-tiba dihadapkan oleh kudapan lezat media minggu-minggu ini : kritisnya Soeharto, mantan diktator Orde Baru. Dramatik naik-turunnya kondisi Pak Harto tak luput dari perhatiannya detik perdetiknya. Ritme gaya manusia Yogyakarta yang santai, tiba-tiba sejenak dilupakan oleh peristiwa ini. Bulik Mulyani sepertinya cukup tegang menikmati drama media ini, bak ikut di kontes idol-idolan televisi : menang atau kalah, mati atau terus hidup.

"Kalau orang tua bilang, Pak Harto seperti ada yang mengganjal dalam hatinya. Seperti menunggu seseorang dan sesuatu yang akan datang, atau belum tuntas. Sepertinya ada yang belum mmemaafkan dia. Jadinya seperti itu. Tommy, anak kesayangannya, pun telah datang, Tata juga. Lantas dia menunggu apa ?" ujarnya.

Ingatan Bulik Mulyani menerawang ketika saat SMA dulu di Yogyakarta. Dia tahu persis ketika Soekarno, mantan presiden pertama tersebut mantu Guntur Soekarnoputra, tak diperbolehkan datang karena tahanan rumah. Urusan kemanusiaan, sekecil apapun ditanggapi rejim tentara dengan kecurigaan. Ini baru urusan kecil seperti mantu, bagaimana dengan kebijakan pertanahan yang dilakukan Rejim Orde Baru pada saat Waduk Kedungombo dibangun ?
Bulik Mulyani pun berkisah, satu saat Tien Soeharto, istri Pak Harto, hendak membeli Alun-alun Selatan beserta isinya. Bu Tien mengutarakan niatan tersebut pada Sultan HB IX, lantas Bu Tien mendaat jawaban mengejutkan dari Sultan HB IX "Kalau mau membeli Alun-alun Selatan, jangan cuma itu saja, bagaimana kalau seluruh kraton ini (Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat) anda beli semua, termasuk saya dan isinya juga ?"
Bu Tien kesal.

"Dulu Bu Tien itu anak camat, lalu dia membeli Dalem Kalitan dari kerabat keraton di Solo' ujar Bulik Mulyani. Dari transaksi itu, darah ningrat Bu Tien didapat. Hal yang lazim, jika seseorang dengan kekuasaan tak terbatas berkuasa membutuhkan simbol untuk meneguhkan kuasanya. Saat roh yang berkuasa di Indonesia adalah kepemimpinan gaya jawa, maka penguasa saat itu menggunakan simbol kejawaan untuk kekuasaan. Penguasa itu membangun monumen untuk dirinya sendiri di Kalitan. Membuat kuburannya sekeramat makam raja-raja Mataram di Imogiri.

Mitos tentang Pak Harto ngelmu dimana-mana tersebar umum di masyarakat. Seorang pembuat keris di Imogiri, Yogyakarta pun mengaku membuatkan keris di Cendana selama beberapa bulan. Keris dipandang penting bagi para priyayi demi keselamatan dan penolakan bala, cuma yang selalu lupa, bahwa keris itu adalah simbol dari kekuasaan jawa itu sendiri. Ngelmu bisa diterjemahkan dengan mencari ilmu,isian, atau kesaktian. Ilmu yang didapat akan menjadikan seseorang pencari akan menemukan harapannya. Sering terdengar cerita, bahwa di Sungai Prambanan Pak Harto muda sering berendam semalaman untuk mendapatkan ilmu ini.
Kekuasaan adalah ilmu terakhir yang dicari.

Dan selama 32 tahun Pak Harto mendapatkan itu.

"Mungkin Supersemar itu cuma bohong" ujar Bulik Mulyani, "Kalau tidak, kenapa Pak Harto tak mau terus terang pada rakyat ?"

Mungkin saja banyak hal yang tak diakui Pak Harto, yang buat rakyatnya sakit hati. Mungkin inilah yang membuat kondisi Pak Harto berada dalam ketidakpastian.

"Bagaimana mungkin orang seorang mantan menteri kehakiman meminta rakyat memaafkan Pak Harto ? Sedang Pak Harto sendiri tak pernah mau akui perbuatannya? Yang namanya mengakui dosa, dimanapun akan didahului dengan pengakuan atas apa yang dilakukan" gumam Bulik Mulyani. Bosan dengan berita Pak Hato, dia memulai makan siangnya. Kematian adalah hal biasa dalam kehidupan, tapi sekarang, bergantung pada : siapakah yang mati itu ?

Semantara lagu terkenal di kalangan aktivis 98 pun sayup terdengar..

Kamu yang sudah tua apa kabarmu?
Katanya baru sembuh katanya sakit
Jantung ginjal dan encok sedikit saraf
Hati hati pak tua istirahatlah

Diluar banyak angin

Kamu yang murah senyum memegang perut
Badanmu semakin tambun memandang langit
Hari menjelang maghrib pak tua ngantuk
Istri manis menunggu istirahatlah

Diluar banyak angin

Pak tua sudahlah
Engkau sudah terlihat lelah oh ya
Pak tua sudahlah
Kami mampu untuk bekerja oh ya

Pak tua oh oh oh

Tidur pak?

Yogyakarta, 13 Januari 2008

Sphere: Related Content

No comments: