13.1.08

Soeharto: Paru-Paru Membaik, Kondisi Masih Tak Menentu

Liputan6.com, Jakarta: Keadaan gawat mantan Presiden Soeharto sudah dilalui seiring membaiknya fungsi paru-paru. Meski demikian, Pak Harto belum melampaui fase kritis. Demikian disampaikan anggota tim dokter kepresidenan Dr. Cristian a. Yohanes di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta Selatan, Senin (14/1) dini hari tadi.

Keluarga Pak Harto pun juga tak putus menengok. Probosutedjo, Halimah--menantu Pak Harto dari Bambang Trihatmodjo, serta tak ketinggalan para cucu hingga cicit Pak Harto. Sejumlah tokoh juga datang adalah putra presiden pertama RI, Guruh Soekarnoputra. Kepala Polri Jenderal Sutanto hingga Kepala Badan Intelejen Negara Syamsir Siregar juga terlihat hadir.

Hingga dini hari tadi, suasana RSPP tak menunjukan kegiatan berarti. Kondisi sepi ini seolah mengiringi Pak Harto yang ditidurkan oleh tim dokter.

Sejak dirawat 4 Januari lalu, kondisi Pak Harto amat fluktuatif. Setelah Jumat lalu kondisinya mencapai titik terburuk, Pak Harto kembali kritis. Hampir seluruh organ vital seperti jantung, paru-paru, dan ginjal diambil alih alat-alat medis.

Alat pacu jantung telah lama dipasang untuk membantu jantung kiri Pak Harto. Menurut tim dokter, alat ini masih bisa bertahan 2-3 tahun lagi. Tapi dalam kondisi sekarang, ditemukan gerak jantung kiri dan kanan tidak sinkron. Juga ada otot jantung yang rusak. Karenanya tim dokter berencana memasang alat pacu jantung kedua bila kondisi Pak Harto stabil.

Tapi sulit karena paru-paru juga dalam kondisi buruk. Tekanan darah yang amat tinggi di paru-paru membuat darah tidak bisa mengalir ke paru-paru. Akibat sirkulasi darah yang tidak baik, kadar oksigen pun berkurang. Dampaknya, pernapasan memburuk dan kesadaran menurun. Untuk membantu Pak Harto, tim dokter pun memasangkan ventilator pada Jumat lalu.

Mesin pernafasan ini menyuplai oksigen langsung ke tubuh melalui mulut yang tersambung ke saluran pernapasan. Pak Harto jadi tak perlu repot bernapas layaknya orang sehat. Namun pemasangan ventilator amatlah sakit sehingga Pak Harto harus dikondisikan tidur.

Seolah menambah komplikasi dari pernurunan fungsi multiorgan, ginjal Pak Harto memburuk. Tim dokter juga membantu fungsi ginjal dengan alat pencuci darah untuk menghasilkan darah bersih. Kondisi inilah yang oleh Menteri Kesehatan Siti Fadillah Supari disebut kehidupan semu. Meski kemudian, tim dokter kepresidenan membantah pernyataan tersebut.(TOZ/Tim Liputan 6 SCTV)

Sphere: Related Content

No comments: