30.1.08

Soeharto Tak Pernah Ditekan, kecuali Soal IMF

Rabu, 30 januari 2008 | 02:12 WIB

Washington, Senin - Amerika Serikat membuka dokumen-dokumen yang
merinci dukungan AS kepada almarhum mantan Presiden Soeharto. Akan
tetapi, dukungan itu tidak untuk menegakkan demokrasi dan hak asasi
manusia. Kesimpulannya, tak seorang pun presiden AS menekan Soeharto.
Satu-satunya pengaruh kuat ketika Presiden Bill Clinton memaksa keras
Soeharto menerima peran Dana Moneter Internasional atau IMF.
Dokumen itu dibuka Senin (28/1) di Washington atas permintaan yang didasarkan
pada undang-undang yang menjamin kebebasan mendapatkan informasi.
Berbagai dokumen itu memperlihatkan AS tidak menggunakan pengaruhnya untuk
"memaksa" Soeharto mempertanggungjawabkan lebih dari 31 tahun
pemerintahannya.
"Ada satu benang merah dari puluhan ribu lembar
dokumen itu bahwa tak pernah ada seorang presiden AS yang menggunakan
pengaruhnya secara maksimal tentang rezim soal hak asasi manusia dan
demokrasi," kata Brad Simpson dari Arsip Keamanan Nasional AS.
Deklasifikasi dokumen itu khusus menyangkut hubungan AS dengan Soeharto periode 1966-1998.
Tak ada rahasia baru
Juru
Bicara Kepresidenan Dino Patti Djalal menilai tidak ada rahasia baru
dalam dokumen yang diungkit secara rinci oleh AS dalam hubungannya
dengan mantan Presiden Soeharto, yang meninggal dunia pada Minggu
(27/1).
Dino menyebut rincian dokumen itu sebagai "lagu lama"
yang hanya menarik bagi sejarawan. "Sejujurnya, dari saya tidak ada
tanggapan. Apa yang diungkapkan sudah banyak berseliweran. Tidak ada
hal baru. Kita sudah lama mendengar itu," ujar Dino soal deklasifikasi
dokumen tersebut, Selasa di Jakarta.
Dino mengemukakan, rincian
dokumen yang menyebut sejumlah kontroversi kepemimpinan Soeharto sejak
tahun 1966 hingga 1998, termasuk sejumlah dugaan pelanggaran hak asasi
manusia, juga tidak akan berdampak terhadap hubungan Indonesia dan AS.
"Saya belum membaca secara rinci dokumen itu, tetapi isinya tampaknya
hanya opini," ujarnya. Sebuah badan nonpemerintah, lembaga riset
dari George Washington University di Washington, mengumpulkan dan
memublikasikan dokumen deklasifikasi yang didapat berdasarkan US
Freedom of Information Act.
 

Brad Simpson, yang mengepalai Arsip Indonesia dan Timor Timur, mengatakan, satu-satunya penggunaan pengaruh maksimal atas Soeharto adalah pada tahun 1998. "Washington memengaruhi
Soeharto secara luar biasa agar menerima resep-resep IMF," kata Simpson. (AFP/MON/INU)

 
 

Sphere: Related Content

1 comment:

weird auditor said...

so?? dont care lah.. ngapain siy melihat masa lalu, yang penting itu masa depan. mendingan lo mikir gimana caranya harga tahu, tempe, minyak goreng, dan minyak tanah bisa balik kaya dulu. jangan bilang itu hal sepele, itu penting banget buat sebagian besar penduduk Indonesia. termasuk penjual gorengan di belakang kantor gw yang akhir2 ini tempe gorengnya makin tipis.