10.1.08

Soeharto tunggu waktu

Soeharto Tunggu Waktu 


Banjarmasin Post.

Sebanyak 25 dokter ahli saat ini bekerja sama menangani Soeharto.
      Kamis, 10-01-2008 | 02:05:30 
      . Disiapkan Skenario Pemakaman
      JAKARTA, BPOST - Kondisi kesehatan mantan Presiden Soeharto
kembali kritis. Tim dokter ahli yang menangani mulai stres dalam
upayanya menangani penyakit yang diidap bekas penguasa Orde Baru
tersebut.

      "Terus terang, kami memiliki beban, stres. Kita juga kan hanya
manusia biasa," jelas Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo
Soebiandono kepada wartawan di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta,
Kamis (9/1).

      Kritisnya kondisi Soeharto dikomentari oleh mantan
Menhankam/Pangab semasa Soeharto berkuasa, Wiranto. Ia melontarkan
kalimat misterius. "Tinggal tunggu waktunya," ujarnya pendek usai
penutupan Rapimnas I Partai Hanura di Jakarta, kemarin.

      Wiranto mengelak memberikan penjelasan tentang maksud `tinggal
tunggu waktu' yang diucapkannya itu. "Sudah, cukup, saya tak mau
komentar lagi," sergah bekas ajudan Soeharto itu seraya buru-buru
pergi.

      Meski terus mengupayakan kesembuhan, Tim Dokter Kepresidenan 
berharap masyarakat dapat membantu mendoakan kesehatannya.

      "Kami minta doa dari semua agar Pak Harto kembali sehat,"
pinta Mardjo Soebiandono.

      Seiring kian memburuknya kondisi Soeharto, Wakil Presiden
Jusuf Kalla, malam tadi, menggelar zikir doa bersama di kediaman
dinasnya, Jalan Diponegoro, Jakarta. Mengambil momen malam tahun
baru Islam  1429 H, sekitar 200 orang memohon doa untuk kesehatan
Soeharto yang juga sesepuh Partai Golkar.

      Acara zikir diikuti sejumlah pengurus DPP Partai Golkar dan
majelis-majelis pengajian binaan partai tersebut.

      Sebelumnya, lima orang biksu dan dua orang bikhuni dipimpin
Biksu Vidya Sasana S menjenguk Soeharto di RSPP. "Sebagai sesama
manusia, kami ikut mendoakan Pak Harto agar cepat sembuh," ujar
Biksu Vidya Sasana yang mengaku sudah menyerukan kepada umat Budha
untuk ikut berdoa.

      Skenario
      Suasana di Astana Giri Bangun, Solo, sudah mulai ramai oleh
berbagai aktivitas. Kepala Rumah Tangga Dalem Kalitan, Sriyanto,
kemarin mengunjungi Astana Giri Bangun untuk mengecek kondisi makam
keluarga Soeharto di kawasan Matesih, Karanganyar.

      Kompleks pemakaman keluarga Soeharto terletak di dekat makam
para bangsawan Mankunegaran Mataram yaitu Astana Mangadeg. Jenazah
Ibu Tien Soeharto disemayamkan di pemakaman ini.

      Beberapa mobil dari stasiun televisi memenuhi pelataran
Kalitan. Beberapa mobil khusus liputan langsung juga terlihat
nongkrong di sana.

      Di saat yang bersamaan, Markar Besar TNI pun telah
mengantisipasi bila Soeharto meninggal. Dua skenario prosesi
pemakaman jenderal bintang lima itu telah disiapkan.

      Dua skenario prosesi pemakaman bila Soeharto meninggal itu
tercantum dalam radiogram dari Mabes TNI. Dalam salinan radiogram
tertanggal 5 Januari 2008 dan ditandatangani Asisten Operasi
Panglima TNI Mayjen Zamroni SE itu tercantum urut-urutan prosesi
secara rinci.

      Dua skenario pemakaman Soeharto yang telah disusun itu
bersandi CB1 dan CB2. Skenario pertama (CB1), proses pemakaman
Soeharto melalui rute RSPP-Halim-Adi Sumarmo-Mangadeg. Skenario
kedua (CB2), proses pemakaman Soeharto melalui rute RSPP-Cendana-
Halim-Adi Sumarmo-Mangadeg.

      Diskenariokan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan
menjadi inspektur upacara (irup) di Astana Giri Bangun, Mangadeg,
Karanganyar. Sementara Wakil Presiden Jusuf Kalla menjadi irup di
Bandara Halim Perdana Kusuma.

      Bila Soeharto meninggal, jenazahnya tidak akan disemayamkan
terlebih dulu di istana. Padahal, sebelumnya Istana Kepresidenan
sempat dipertimbangkan menjadi tempat persemayaman jenazah Soeharto.

      Dua skenario TNI ini sebangun dengan kesiapan Bandara Adi
Sumarmo, Solo. Menurut seorang petugas, Bandara Adi Sumarmo akan
ditutup untuk penerbangan reguler bila jenazah Soeharto dibawa ke
Solo.

      Ketika hal ini dikonfirmasi ke Mabes TNI, jurubicara TNI
Marsekal Muda Sagom Tamboen menyatakan pihaknya tidak pernah merilis
secara resmi skenario pemakaman itu.

      "Tapi yang pasti, TNI sudah melakukan hal-hal penting sebagai
antisipasi bila ada kondisi terburuk," jelasnya diplomatis.

      Tergantung Mesin
      Meski tim dokter sudah membatasi secara ketat, sejumlah tokoh,
kemarin, tetap nekat membesuk Soeharto. Di antaranya mantan Wapres
Try Soetrisno, mantan Menteri Sekretaris negara Moerdiono, mantan
Kabulog Bustanil Arifin, Menteri Pertahanan Juwono Sudharsono.

      Sebanyak 25 dokter ahli saat ini bekerja sama menangani
Soeharto. Tim yang totalnya mencapai 40 orang itu, merupakan
gabungan dari berbagai rumah sakit di Jakarta dengan berbagai
spesialisasi.

      Pasca dilakukan tindakan pemeriksaan Sidik Perfusi Jantung
mengunakan teknologi radionuklir, kondisi Soeharto sempat mengalami
fase drop cukup parah. "Soeharto mengalami sesak nafas hebat
lantaran peningkatan penumpukan cairan di paru-paru," beber Mardjo.

      Hingga sore kemarin, kurang lebih 3.000 cc cairan  yang
menggenang di paru-paru telah disedot. Namun, perdarahan di urine
dan faces Soeharto masih kerap terjadi.

      Tim dokter mengakui kondisi kesehatan menjadi begitu
dilematis. Di satu sisi, Soeharto sangat membutuhkan bantuan alat-
alat dan mesin kedokteran. Namun pemasangan alat-alat berdampak
negatif bagi tubuhnya.

      "Jika terus dipasang alat-alat dan mesin kedokteran,
haemoglobinnya akan terus turun. Ini jadi dilema," kata dokter Djoko
Rahardjo

      "Kemarin kita coba cabut infusnya, tapi kondisinya langsung
nge-drop," tambahnya.

      Dari hasil pemeriksaan menunjukkan di dalam ginjal Soeharto
masih terdapat batu yang bisa menambah rasa sakit. "Yang jelas
ginjal Pak Harto sudah tidak lagi berfungsi untuk menyalurkan air
kencing," terangnya.

Sphere: Related Content

No comments: