28.1.08

Soehartoisme berkibar, karena reformasi membusuk

Oleh Dimas


PEMULIAAN kembali kepada sosok Soeharto, di saat penguasa Cendana menghadapi sakratul maut, dan meninggal, kemarin, tak semata-mata kesalahan media dan rakyat. Para ibu rumah tangga yang kesulitan minyak tanah dan tempe, kini mulai berani berteriak: "Enakan zaman Pak Harto!" dan mereka memberikan gambaran sederhana: di masa Orba sandang pangan murah, pekerjaan gampang. Sedangkan era reformasi berubah menjadi era "repotnasi" alias "reforMATI". BBM terus naik mencekik, minyak tanah menghilang, dan harga tahu dan tempe melangit.

Membayangkan seorang Soeharto yang konon memiliki harta Rp270 triliun, dan dengan gagah dulu mengaku "Saya tak punya uang sesen pun di luar negeri " – sementara seorang anaknya yang mau cerai diberitakan punya harta Rp30 triliun dan sibuk dengan istri barunya -- sungguh menyesakkan dada.

Seandainya pemerintah serius menegakkan hukum, membenahi ekonomi negara dan menjadi reformis yang sesungguhnya, tentulah, negara sudah mendapatkan sebagian harta keluarga Soeharto. Yang terjadi adalah sekadar memanggil-manggil, memeriksa, memanggil, memeriksa, memanggil lagi, memeriksa lagi, untuk kemudian senyap. Tak ada kabar kelanjutannya. Alih-alih dibersihkan, Keluarga Cendana bersama kroninya dijadikan sapih perah dan sumber penghasilan baru aparat penegak hukum dan partai-partai serta politikus yang tak tahu malu menyebut diri dari kelompok "reformis".

Korea bisa menjebloskan dua presidennya, dan bangkit sebagai negara industri yang makmur, Filipina bisa mendapatkan kembali sebagian harta Ferdinand Marcos, mengapa Indonesia tidak?!

Soeharto mengalami masa sehat cukup lama, beberapa waktu lalu, sempat bisa shalat di masjid, menerima tamu penting, dalam dan luar negeri di Cendana, dan bahkan mantu. Tapi aparat hukum kita yang mendapat mandat TAP MPR untuk mengusutnya, cuek saja.

Era nostalgia kenyamanan Orba kini bergaung lagi, karena gerakan reformasi begitu cepat layu dan kemudian membusuk. Mereka yang menyebut dirinya reformis berubah menjadi pemeras bagi musuh-musuh politiknya, mengeruk duit para pelaku korupsi di masa lalu dan pengemplang utang negara, menjadikan reformasi sebagai arena balas dendam sekaligus sumber penghasilan. Politik dan kekuasaan menjadi hadiah arisan. Sementara rakyat tetap menderita dan keleleran.

Di era reformasi, para pengemplang puluhan triliun dana BLBI diperiksa Polri, dipanggil kejaksaan, diteriaki politisi, dan diberitakan media, Diramaiakan partai dan media, selanjutnya diperas . Mereka dipanggil, diperiksa, dipanggil lagi, dan diperiksa lagi, diberitakan lagi. Selanjutnya sunyi, senyap, hilang dan kemudian dilupakan…sementara para jendral di polri dan para hakim dan jaksa dan politi partai semakin kaya raya.

Di milis-milis kritis, beredar daftar sejumlah Kapolda dan petinggi Polri yang punya rekening ratusan milyar rupiah. Dan tentunya, juga para politikus, yang kekayaannya melesat berkali-kali lipat hanya dalam satu kali jabatan saja. Politisi yang sebelumnya tinggal di rumah petak, melesat menjadi milyader dan mengaku dapat "hibah" milyaran rupiah.

Era Orba adalah era penuh tekanan, pembatasan, korupsi para pejabat, serba otoriter dan serba "menurut petunjuk". Tak ada kebebasan dan demokrasi. Di era reformasi, tukang tambal bisa jadi anggota DPR, mantan bandar dadu jadi bupati, dan seorang ketua bulog tertangkap basah menyembunyikan uang ratusan juta di kamar mandi.

Di masa Orba premanisme mengatas namakan negara, di masa kini premanisme mengatas- namakan agama. Partai dan politi local memproduksi perda agama yang memojokkan perempuan dan pengusaha. Para ulama menjadi provokator, tak malu memamerkan kebencian, para ustad memimpin tindakan anarkis, tanpa rasa malu dan mengabaikan akhlak, menggropyok tempat ibadah umat lain, juga menganiaya mereka yang seiman tapi beda aliran. MUI memproduksi fatwa yang mendorong tindak pengrusakan. Agama dijadikan arena untuk memonopoli Tuhan. Membenci keberagaman.

Di masa orba televisi praktis dikuasai pemerintah, hanya ada satu suara, dan acara hiburan menjadi jendelanya. Di masa reformasi televisi dimonopoli kapitalis berselera rendah, yang memamerkan tayangan tanpa akal budi. Pembodohan sebagian besarnya. Pengusahanya memang masuk urutan 15 Orang Terkaya di Indonesia, jadi tokoh sukses, mengembangkan usaha, tapi rumah produksi yang menjadi partnernya ngap-ngapan karena diperas kelompok media besar yang mengelompok, dan mampu menekan PH agar menyetor program acara dengan imbalan murah, dan pembayarannya ditunda berbulan-bulan hingga tagihannya menumpuk milyaran rupiah.

Soeharto kini sedang di ujung maut. Harta senilai Rp270 triliun yang dikorupsi dan dikumpulkan selama 32 tahun sudah pasti tak akan diserahkan dengan sukarela kepada negara dan pemerintah sekarang. Andai pun diserahkan, patut dipertanyakan, apakah rakyat mendapatkan berkah dan tetesannya? Siapa yang menjamin, tidak jadi jarahan sekelompok elite yang rakus dan gemar mencaplok. Minimal jadi jarahan segelintir di antara mereka.

Sementara itu, di akar rumput, antre minyak tanah masih berlangsung di sejumlah wilayah, sedangkan harga tahu dan tempe terus membumbung. Pengganjal harian rakyat itu berubah jadi komoditi mewah.

Kehidupan saya dan keluarga saya tidak begitu baik di masa Orba. Pun di masa reformasi. Dua-duanya brengsek.

Sphere: Related Content

No comments: