30.1.08

Sumarsih tuntut keadilan

Rabu, 30 Januari 2008
HAM

Sumarsih Tuntut Keadilan

Jurnalis: Dewi Setyarini

Jurnalperempuan.com-Jakarta.Kematian orang yang dicintai memang
menyedihkan, tapi bagi Sumarsih kematian keadilan jauh lebih
menyedihkan. Itulah hal yang paling tidak diinginkan dari meninggalnya
Suharto yang pernah berkuasa di negeri ini selama 32 tahun. Baru-baru
ini muncul sinyalemen dari beberapa pihak agar Soharto dibebaskan dari
semua tuduhan kesalahan. Kalau itu sampai terjadi, menurut Sumarsih,
berarti akan melukai keadilan, terutama melukai orang-orang yang
selama ini telah menjadi korban pelanggaran HAM seperti dirinya.

"Kami menuntut hak-hak korban pelanggaran HAM. Jangan sampai hal ini
membebani kepergian Suharto. Urusan kompensasi, rehabilitasi, atau
memaafkan, harus dibawa ke pengadilan. Harus ada pelurusan sejarah
supaya ada batasan jelas antara korban dan pelaku." demikian Sumarsih.

Sumarsih adalah ibu dari salah satu korban peristiwa Semanggi. Tanggal
13 November 1998 yang lalu, ribuan mahasiswa dan masyarakat turun ke
jalan-jalan di Jakarta, mereka berkumpul di daerah Semanggi dan
sekitarnya. Sudah dua hari terakhir demonstrasi besar-besaran
dilakukan untuk menentang berkuasanya kembali Orde Baru dan menentang
militer masuk politik. Alih-alih mengeliminasi kerusuhan, aparat
melakukan pembubaran paksa atas aksi yang mencuri perhatian
internasional itu. Kendaraan lapis baja menyeruak di antara para
demonstran, disusul penembakan membabibuta. Dan salah satu peluru
menyasar dada Norma Irmawan (Wawan), mahasiswa Fakultas Ekonomi Atma
Jaya, Jakarta. Wawan pun tumbang dan nyawawanya melayang. Selain
Wawan, tragedi Semanggi sepuluh tahun lalu juga menewaskan 17 orang
korban. Sayangnya, hingga kini dalang dari peristiwa Semanggi belum
tersentuh hukum. Keadilan terluka.

"Nah, sekarang, Suharto boleh saja meninggal, tapi kroni-kroninya, kan
juga menjadi pelaksana pelanggaran HAM, mestinya diadili juga. Jangan
sampai ada yang mengambil keuntungan dengan meninggalnya Suharto ini,"
lanjut Sumarsih di tengah aksi yang dilakukan dalam gerimis hujan.

Penyitaan aset Suharto dan kroninya juga menjadi salah satu butir
tuntutan para pendemo. Selain itu, gelar kepahlawanan yang sedianya
akan diberikan Suharto juga mereka pertanyakan.

Sumarsih bersama Suciwati dan para korban dari kejadian `65, Trisakti
yang tergabung dalam Jaringan solidaritas Keluarga Korban Pelanggaran
HAM ini melakukan aksi damainya di depan istana pada Selasa (29/01).
Aksi ini akan digelar setiap sore hari hingga tanggal 3 Februari
mendatang.*

 

Sphere: Related Content

No comments: