13.1.08

Tak Besuk, Harmoko Pilih ke Makam

Jawa Pos, Minggu, 13 Jan 2008,

NGANJUK - Ketika orang-orang dekat Soeharto berduyun-duyun membesuk mantan
presiden itu, ke mana Harmoko? Mantan menteri penerangan itu memang tak
terlihat di antara para penjenguk di RSPP Jakarta, tempat Soeharto dirawat.

Radar Kediri (Grup Jawa Pos) tadi malam menemui Harmoko. Selama Soeharto
sakit, pria yang identik dengan ucapan "atas petunjuk bapak presiden itu"
mengaku sedang napak tilas situs-situs bersejarah warisan Soeharto.

"Saya datangi semua petilasan Bapak. Terakhir kemarin (Jumat (11/1) saya ke
Astana Giribangun (makam keluarga Soeharto di Solo, Red) untuk memanjatkan
doa buat Bapak," ujar Harmoko. Dia tak merinci ke mana saja selain ke sana.

Saat ditemui, sosok dengan rambut tersisir kelimis itu berada di Pondok
Pesantren Al Barokah, Desa Ngepung, Patian Rowo, Nganjuk, Jawa Timur. Gaya
bicara Harmoko tak banyak berubah, masih terang seperti yang tiap hari
terdengar di televisi dan radio semasa Orde Baru.

Pondok Pesantren Al Barokah berjarak sekitar 20 km dari kota Nganjuk. Pondok
tersebut dibina Harmoko sejak tidak aktif lagi di pemerintahan. Menempati
lahan sekitar tiga hektare, terdapat lebih dari 100 santri di pesantren
modern itu. Lokasi pondok tersebut sekitar 2 km dari pemakaman keluarga
Harmoko.
Mengapa tidak menjenguk Pak Harto langsung di RSPP? Harmoko yang kemarin
memakai baju muslim merah marun dengan celana hitam mengatakan, mendoakan
Soeharto tidak perlu harus bertemu langsung.

"Bapak sedang sakit. Orang sakit apa bisa ditemui?" katanya. Selanjutnya,
dia menyebut sudah mengirimkan karangan bunga ke RSPP. "Saya juga sudah
kirim pesan tertulis yang menyatakan keprihatianan dan harapan agar Bapak
cepat sembuh," ujarnya.

Apakah Harmoko menghindari Keluarga Cendana karena dia dianggap ikut
"berperan" dalam lengsernya Soeharto dari kursi RI 1? Harmoko butuh jeda
sejenak untuk menjawabnya. "Gini lho, setiap orang punya salah dan jasa,"
katanya. "Lagi pula untuk tahu perkembangan Pak Harto, kan tidak harus tanya
ke keluarganya. Lewat media sudah cukup. Saya selalu memantau media setiap
saat," ujar mantan orang nomor satu Golkar itu lirih.

Sabtu, 16 Mei 1998 adalah titik balik hubungan Soeharto dan Harmoko. Ketika
itu Harmoko yang menjabat ketua MPR/DPR, disertai empat wakil ketua: Abdul
Gafur, Syarwan Hamid, Ismail Hasan Metareum, dan Fatimah Achmad meminta
Soeharto mengundurkan diri. Saat itu demo mahasiswa sedang hebat-hebatnya.

Maklum bila Soeharto sangat terkejut melihat sikap Harmoko. Sebab, sebelum
sidang umum MPR 1998, Harmoko pulalah yang menyebut bahwa rakyat masih
menghendaki Soeharto jadi presiden. Dalam penutupan sidang umum MPR 1998,
yang juga memilih Soeharto menjadi pemimpin pada periode ketujuh, Harmoko
mengetukkan palu sidang hingga lepas. Pada 11 Maret 1998, Soeharto disumpah
jadi presiden di depan Harmoko juga.

Keadaan berbalik cepat. Dalam kondisi terdesak, Soeharto mundur pada Kamis,
21 Mei 1998, dan mengakhiri kekuasaan 32 tahun Orde Baru. Kerusuhan besar
mengiringi peristiwa itu. Selain di Jakarta, kerusuhan terjadi di Solo.
Rumah Harmoko di sana dibakar massa.

Harmoko kemudian tak banyak tampil di depan publik. Dengan mesin ketik
prakomputer, dia menulis kolom Obrolan Warung Kopi di harian Pos Kota
Jakarta. Ketika banyak mantan menteri dan kroni Soeharto diperiksa dalam
berbagai kasus hukum, Harmoko tidak tersentuh.

Pada saat ditemui tadi malam, Harmoko baru saja usai mengadakan doa dan
zikir bersama di pondoknya. Dipimpin KH Rosydin, doa bersama itu diikuti
ratusan santri dan masyarakat sekitar. Doa berlangsung seusai salat isya dan
selesai pukul 20.30 WIB.

Doa bersama untuk kesembuhan Soeharto itu, menurut Harmoko, seharusnya aktif
dilakukan. Bagaimanapun, dia menilai Soeharto sebagai mantan pemimpin yang
mempunyai jasa atas bangsa ini. Karena itu, dia ikut peduli terhadap kondisi
kesehatan jenderal bintang lima tersebut. "Saya masih melihat Pak Harto
adalah pemimpin yang besar. Bagaimanapun, dia telah menjadi pelopor pemimpin
yang membangun bangsa ini," ujar Harmoko.

Doa bersama serupa, menurut dia, telah dilakukan beberapa kali. Tidak hanya
di pondok pesantrennya. Dia mengaku beberapa kali mengadakan pertemuan dan
rapat di Jakarta dengan Yayasan Lailatul Qadar. Dia juga menyempatkan untuk
melaksanakan doa bersama.

Seusai zikir, Harmoko langsung bertolak ke padepokan dan pemakaman keluarga.
Dikawal delapan pria tegap, dia bergegas menuju ke mobil Toyota Land Cruiser
hijau bernopol B 1288 AZ. "Laku ke makam sudah menjadi kebiasaan saya sejak
dulu, terutama jika ada situasi genting seperti sekarang," ungkapnya sambil
menuju mobil.

Setelah berkendara lima menit, sampailah rombongan kecil itu di lokasi
padepokan Harmoko. Seperti sudah hafal betul dengan lingkungan setempat,
pria tersebut dengan cekatan menyusuri jalan setapak ke pemakaman. Padahal,
situasi saat itu gelap gulita. Hanya senter di tangan Harmoko yang menerangi
jalan. "Beginilah kalau ikut Bapak, bisa berkunjung dari makam ke makam
sampai tengah malam. Saat Bapak datang, semua makam itu harus digelapkan,"
ujar seorang pengawal Harmoko dengan berbisik.

Di pemakaman itu, sekitar sepuluh menit Harmoko memanjatkan doa. Nada doa
dan zikirnya seperti tembang Jawa, terdengar keras hingga ke luar kompleks
makam. "Habis ini saya ada acara lain, lalu besok (hari ini, Red) ke
Surabaya. Sudah ya, doakan saja Soeharto cepat sembuh," katanya saat
berpisah dengan Radar Kediri. (dea/jpnn/kim)

Sphere: Related Content

No comments: