19.1.08

Angan-angan tukang cendol

Mobil saya sebenarnya sudah selesai diperbaiki di bengkel sejak seminggu yang lalu. Tapi saya tak mampu menebusnya karena tak punya uang.

Sebenarnya biayanya tak besar-besar amat. Tapi apa mau dikata? Jangankan menebus mobil dari bengkel, untuk beberapa urusan lain yang lebih penting pun saya tak mampu. Karena itu selama beberapa hari ini saya uring-uringan terus memikirkan kebutuhan uang yang mendesak.

Tadi pagi isteri saya bertanya kepada saya: "Jangan marah, ya? Sekali lagi, jangan marah, ya? Saya hanya mau berandai-andai atau berangan-angan seperti tukang cendol...."

"Hah, apa angan-angan tukang cendol-mu itu?"

"Kalau saat ini ada yang memberimu segepuk uang yang lebih dari cukup untuk melunasi semua kebutuhan mendesak itu, tapi sebagai imbalannya kau musti berdiri di teras RS Pertamina, lalu ngomong galak di depan corong media, menuntut agar Pemerintah membatalkan semua tuntutan dan gugatan hukum kepada Suharto, kau mau nggak?!"

"Hah?! Hah?! Ha-ha-ha-ha-ha-ha!"

Mula Harahap :-)

Sphere: Related Content

No comments: