11.1.08

Tuntutan Golkar dan Surat Yanti

**IBRAHIM ISA - Berbagi Cerita**

**------------------------------**

**Jum'at, 11 Januari 2008**

**INTERMEZO (5)**

*Tuntutan GOLKAR Dan Surat** YANTI Dari Jkt*

*Mengikuti perkembangan situasi kesehatan mantan Presiden Suharto, yang
pada minggu pertama Januari diopname karena macam-macam penyakit yang
diidapnya bertambah parah kemudian mengakibatkan KRISIS, --- perhatianku
tertarik pada berita Jakarta Post yang berjudul 'Golkar's Soeharto call
backfires'. Maksudnya seruan Golkar agar Suharto dibebaskan dari segala
tuntutan hukum, malah menjadi 'senjata makan tuan'. *

*Tertarik pula perhatianku terhadap sepucuk surat yang kuterima dari
Yanti Mirdayanti. Ia menyampaikan bahwa rakyat yang menderita kesulihat
hidup dari hari ke hari, tidak tertarik pada berita sekitar Suharto dan
tututan pengampunan terhadapnya. Rakyat lebih memusatkan tenaga dan
fikirannya pada masalah bagaimana untuk bisa 'survive'.*

** * **

*Golkar, suatu parpol yang dilahirkan, dibesarkan dan menjadi tumpuan
politik mantan Presiden Suharto selama 32 tahun kekuasaan Orba, menjadi
amat khawatir disebabkan sikap pemerintah yang sejalan dengan inisiatif
StAR - Stolen Asset Recovery, disponsori oleh Bank Dunia, yang
melaporkan bahwa Suharto (86 th) digolongkan sebagai maling terburuk
sedunia atas kekayaan negara. *

*Tapi, justru karena kegiatan Golkar (dan sekutu-sekutunya) yang
pontang-panting bikin suasana 'ampuni Suharto', timbullah reaksi yang
berlawanan dari banyak penjuru, terutama dari kalangan pengelut hukum
dan undang-undang.*

*Jaksa Agung Hendarman Supanji, ketika merespons tuntutan 'ramé-ramé
mengampuni Suharto', menyatakan bahwa tuduhan kriminal atas Suharto
sudah lama dihentikan, tetapi, --- tuntutan pidana akan diteruskan. Yang
masih jalan terus adalan perkara perdata terhadap 7 yayasan milik
Suharto. Dikemukakan bahwa 7 yayasan milik Suharto itu: Yayasan Dakab,
Dharmais, Amal Bakti Muslim, Pancasila, Supersemar, Dana Sejahtera
Mandiri, Gotong Royong dan Yayasan Trikora, ternyata telah menyalurkan
banyak dari dana yang mereka terima kepada perusahaan-perusahaan milik
kroni-kroninya Suharto. Hendarman menandaskan bahwa mengampuni Suharto
tidak mungkin di bawah hukum Indonesia. *

*Ketua MPR, Hidayat Nurwahid dan Wakil Ketua MPR, A.M. Fatwa yang
mengeluarkan dekrit untuk mengadili Suharto,--- minta kepada pemerintah
agar Suharto diajukan ke pengadilan. Hendardi dari LBH dan HAM
menegaskan, bahwa dalam memberikan tanggapannya Presiden (SBY) dan
Wapres(JK) telah kebablasan. Emerson Yuntho dari Indonesian Corruption
Watch menegaskan bahwa hukum harus diberlakukan terhadap Suharto.
Waktunya tepat sekali untuk menunjukkan bahwa pemerintah punya
'political will' untuk mengajukan Suharto ke pengadilan, kata Yuntho. *

*Nah, ramai-ramai minta pengampunan, akibatnya malah timbullah penegasan
dari Jaksa Agung bahwa tuntutan perkara perdata terhadap Suharto akan
diteruskan.*

*Mari kita ikuti cerita Yanti Mirdayanti dari Jakarta.*

** * **

*SURAT YANTI DARI JAKARTA*

*Malam ini kuterima surat e-mail dari **Cendekiawan muda YANTI
MIRDAYANTI, kini bekerja sebagai dosen pada sebuah universitas di Bonn,
yang sedang di Jakarta, dengan judul berikut ini:*

*SUHARTO DI RUMAH SAKIT.*

Suasana di Indonesia masih biasa saat Soeharto di RS

Saya perhatikan, sejak seminggu saya berada di tanah
air, masyarakat Indonesia tidak begitu ramai
membicarakan soal Soeharto di Rumah Sakit.

Teman-teman, saudara, maupun tetangga yang sempat saya
temui, di setiap pembicaraan dengan saya tak pernah
menyingung tentang Soeharto sakit. Padahal di koran
dan tv soal ini ramai diliput.

Selama ini saya belum sempat menonton tv, lupa terus!
Jadi, berita tentang Seharto hanya saya dapatkan dari
koran-koran.

Mungkin saat ini bagi kebanyakan rakyat Indonesia,
soal Soeharto sakit di RS tak begitu menarik untuk
dibicarakan. Atau mungkin karena umumnya saya
berinteraksi dengan rakyat biasa, bukan dengan para
pejabat.

Tapi saya kira, kalau umpamanya muncul berita
kematian, maka suasana akan lain dan tema pembicaraan
di kalangan rakyat biasa pun akan lebih ramai.

Tapi hari Jumat ini agak sedikit lain: begitu saya
sampai rumah dari acara jalan-jalan di toko buku
Gramedia, kakak dan suaminya seperti dikomando
langsung menyambut saya dengan kalimat: 'Tadi di
berita tv kondisi Pak Soeharto diberitakan parah.'

Sayangnya saya datang agak larut malam, sudah tak ada
berita lagi di tv.

Jadi, kesimpulan sementara saya, masyarakat umum
Indonesia akan mulai menaruh perhatian ke soal
Soeharto sakit, jika dua hal terjadi: Kondisi sakit
yang sudah parah sekali dan berita meninggal dunia.

Oh ya, orang-orang yang kebetulan berinteraksi dengan
saya hampir semuanya mengeluhkan soal semakin beratnya
beban hidup. Penghasilan bulanan kakak-kakak saya yang
pegawai negeri misalnya tidak pernah cukup untuk
memenuhi kehidupan sehari-hari untuk sebulan penuh.
Sebelum setengah bulan perjalanan, uang gaji sudah
tekor!

Memang harga-harga d Indonesia cukup mahal untuk
ukuran penghasilan rakyat biasa dan pegawai negeri
secara umum. Harga uang rupiah tak begitu memiliki
nilai. Sejuta rupiah sekarang untuk saya pribadi
nilainya seperti seratus ribu atau dua ratus ribu
rupiah ketika saya mengunjungi Indonesia tiga tahun
lalu. Atau mungkin ini perasaan saya saja.

Makanya, saya pikir, rakyat bawah Indonesia mana ada
waktu dan minat untuk memperhatikan masalah Soeharto
sakit. Untuk survive sehari-hari saja sudah cukup
merepotkan!

(Jabar, Jan. 2007)

 

Sphere: Related Content

No comments: